SINOPSIS : AYAH

June 26, 2020


Halaman : xxvii + 324 hal
Diterbitkan oleh : Republika Penerbit
Penulis :  Irfan Hamka

Sebagai tokoh nasional yang masyhur, tentunya banyak orang yang ingin mengetahui kehidupan dari Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka. Pria yang lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908 memang memiliki banyak sisi kehidupan yang menarik dan patut diteladani. Oleh karena itu, banyak penulis yang ingin mengabadikan perjalanan hidup Hamka ke dalam sebuah buku.

Sebuah buku karya Irfan Hamka yang berjudul Ayah ini menceritakan kehidupan seorang Buya Hamka. Dalam buku ini, selain sebagai penulis, Irfan juga berkedudukan sebagai anak ke lima dari pasangan Hamka dengan Hajah Siti Raham Rasul. Tentunya dalam penceritaannya, unsur subjektivitas tidak bisa terelakkan mengingat beliau adalah seorang anak. Namun, itu semua tidak mengurangi  keindahan akhlak, perjuangan, serta nilai-nilai yang ada dalam diri Hamka.

Cerita-cerita dalam buku ini, selain dari pengalaman langsung sang penulis, juga terdapat beberapa cerita dari teman-teman maupun kerabat Buya Hamka. Ditambah lagi sumbangsih cerita dari sanak saudara yang memiliki kehidupan sangat dekat dengan Hamka, membuat buku ini menguak beberapa kepribadian ataupun kejadian yang tidak diketahui khalayak umum.

Cerita dalam buku ini bermula dari ketika Irfan berumur lima tahun. Kenangan masa kecilnya dipenuhi dengan perjuangan berpindah-pindah tempat tinggal agar sang ayah tidak tertangkap oleh pihak Belanda. Ya, selama tahun 1947, Hamka memang disibukkan dengan usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan. Beliau berkeliling Sumatra bagian tengah untuk menghimpun kekuatan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Tekat beliau begitu membara. Beliau rela keluar masuk hutan, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain agar tidak tertangkap oleh Belanda.

Kepindahan Hamka ke Jakarta pada tahun 1950, membuat karir beliau semakin melejit. Setelah diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kementerian Agama, lima tahun berselang beliau terpilih menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia. Selama tahun 1955-1957 inilah beliau berkecimpung didunia politik.

Salah satu momen paling menarik dalam buku ini adalah ketika Hamka, beserta sang istri dan Irfan menjalankan ibadah haji ditahun 1968. Perjalanan ke Tanah Suci yang masih menggunakan kapal laut tersebut memakan waktu sekitar tiga belas hari.Banyak kenangan manis maupun pahit bersama sang ayah dan umi selama perjalanan menuju Mekah. Selain singgah dibeberapa kota besar dan berkeliling sambil menikmati kuliner khas daerah tersebut, selama perjalanan mereka juga mendapati peristiwa-peristiwa yang gak bisa ditemui ketika di darat, salah satunya adalah prosesi pemakaman jamaah haji yang meninggal dunia di kapal. Proses pemakamannya yang sangat berbeda dari biasanya, yaitu dengan cara menenggelamkannya di tengah laut, menjadikan peristiwa tersebut tak akan terlupakan.

Momen haji ini pun dimanfaatkan oleh Hamka, umi, dan Irfan untuk berkeliling negeri Arab, mulai dari Mesir, Suriah, Lebanon, hingga Irak. Sosok seorang pemikir dan ulama yang melekat pada diri Hamka membuatnya diundang oleh beberapa kedutaan besar negara Arab untuk mengisi pengajian.
Hal yang menyenangkan dari perjalanan ini tentunya adalah dapat berkeliling sambil menikmati kehidupan negeri Arab. Beberapa kebiasaan unik seperti kebiasaan orang mesir makan wortel di jalanan, hingga kota Lebanon, Beirut yang memiliki berbagai dimesi kehidupan.

Namun selama perjalanan yang memakan waktu sekitar satu minggu tersebut, mereka juga mengalami beberapa kejadian buruk. Kejadian buruk tersebut dimulai dengan turbulensi parah selama penerbangan dari Suriah ke Irak yang membuat tekanan darah umi naik drastis. Kejadian tersebut menimbulkan trauma sekaligus membuat kesehatan umi drop. Karena memperhitungkan kesehatan umi sekaligus masih ada rasa trauma turbulensi dari mereka bertiga, akhirnya mereka kembali ke Mekah dengan menggunakan mobil.

Perjalanan tersebut memakan waktu tiga hari empat malam dengan melintasi padang pasir terluas kedua di dunia. Selama perjalanan tersebut, setidaknya tiga kali sang penulis bersama sang ayah dan umi dihadapkan dengan kematian. Yang pertama adalah dikejar badai pasir. Yang kedua adalah nyaris terjadi kecelakaan ketika sang sopir mengantuk. Dan yang ketiga adalah ketika mereka nyaris tersapu oleh air bah ketika melintasi gunung granit. Ada yang menarik ketika semua itu terjadi. Meskipun bahaya sudah didepan mata, Hamka tetap tenang, berdzikir dengan menyebut nama Allah. Dan seketika itu pula mara bahaya yang nyaris merenggut nyawa mereka urung terjadi. Sungguh suatu keimanan dan ketenangan yang luar biasa.

Buku ini juga menceritakan menceritakan keteladanan Buya Hamka yang perlu dicontoh oleh generasi-generasi selanjutnya. Dibalik sifat pemaaf, penyayang, dan sabar, beliau juga seorang yang tegas, tanpa kompromi. Ketegasan dan sifat tanpa kompromi tersebut selalu dikeluarkan oleh Hamka tatkala beliau bersentuhan dengan masalah akidah dan nahi mungkar. Salah satu contohnya adalah tatkala beliau rela mundur dari jabatan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantaran enggan mengubah fatwa yang telah ia keluarkan.

Adapun sifat pemaaf beliau tercermin dari kemauannya menjadi imam sholat jenazah Soekarno meskipun ditahun 1962, Hamka dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Selain itu, permintaan terakhir Moh. Yamin untuk bimbingan Hamka dikala akhir hayatnya juga dipenuhi oleh Hamka meskipun dalam beberapa tahun terakhir Moh. Yamin sangat benci dengan Hamka lantaran perbedaan faham ideologi. Serta beliau menerima menantu Pramoedya Anantatoer untuk menjadi muridnya untuk belajar agama islam.

Membaca dan menulis merupakan ruh dari Hamka. Ratusan karya telah diterbitkan, mulai dari buku agama, roman, maupun artikel-artikel yang dimuat di majalah. Bahkan buku Tafsir Al Azhar menjadi rujukan utama para ulama untuk mempelajari tafsir Al Quran. Bahkan roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Dibawah Lindungan Kakbah telah diangkat dilayar lebar dan mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat Indonesia.

You Might Also Like

0 komentar