MENJADI MANUSIA YANG BERMANFAAT

September 09, 2018

 
Dalam Kegelapan, Mereka Tetap Belajar
Mendapatkan penempatan kerja di daerah terpencil adalah sebuah mimpi buruk bagi gue. Eh, bukan hanya gue aja sih, kebanyakan orang pasti juga begitu. Dulu, membayangkannya aja ngeri, apalagi kalau sampai mengalaminya wkwk. Dan sekarang, gue mengalaminya bro! Udah dua setengah tahun lagi. Mantap betul gak tu! Tapi tenang aja bro, jalani aja, semua itu telah direncanakan oleh Allah, yang penting ikhlas menjalani, keep trying to give advantages to others, and the most important thing is tetap berusaha untuk cepat pindah aja haha.

Okay guys, dikesempatan kali ini, gue mau share salah satu pelajaran hidup gue yang paling berharga selama tinggal di daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan), yaitu tentang semangat anak-anak dalam belajar. 

Kala itu, bertepatan di akhir bulan November 2016, tepat 8 bulan setelah gue tiba di Kabupaten Teluk Wondama. Sebuah kabar gembira menghampiri umat muslim di wilayah selatan kabupaten tersebut (Distrik Wondiboi dan Rasiey), yaitu dibangunnya sebuah mushola. Yups, mushola gays! Tempat ibadah! Amazing!
 
Mushola Nurul Askar
Kok amazing? Yaiyalah, mendirikan tempat ibadah di daerah minoritas tu suatu perjuangan yang tak ringan bro! Banyak halang rintang yang menghadang. Tapi tengan aja, semuanya terkendali kok. Sebelum berdirinya Mushola yang diberinama Mushola Nurul Askar ini, penduduk muslim yang tinggal di wilayah selatan harus menempuh jarak sekitar 7 km untuk menemukan tempat beribadah. Lumayan tu 7 km, memerlukan waktu 10 menit menggunakan motor.

Hidup didaerah terpencil, ditambah lagi minimnya akses pendidikan agama bagi anak-anak membuat jiwa kemanusiaan gue tersentuh. Gue bersama dengan seorang temen senasib sepenanggungan berinisiatif untuk meluangkan waktu setelah maghrib mengajar anak-anak mengaji. Tentunya terlebih dahulu gue minta izin kepada bapak imam mushola, dan alhamdulillah beliau sangat mendukung gagasan kami. Bahkan beliau jugalah yang mengumpulkan anak-anak sekitar mushola untuk belajar mengaji setelah maghrib.

“Ingat bro, bukankan sebaik baiknya manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain? Itulah yang memotivasi gue untuk selalu berusaha memberikan manfaat dimanapun gue berada”

Dan hari pertama mengajipun tiba. Gue kaget setengah mati dengan antusiasme anak-anak disini. Meskipun harus berjalan kaki sekitar 1 km, semua itu tak mengecilkan nyali mereka. Pernah kami data, total anak yang datang mengaji mencapai 40 anak. Udah seperti sekolahan aja wkwkwk.

 Ya, normalnya anak-anak, pastinya mereka mempunyai rasa takut terhadap gelap dan hantu. Ingat bro, ngajinya setelah maghrib ya, jadi mereka pulangnya pasti hari sudah gelap, jalanan gelap, minim penerangan. Tetapi semua itu tak jadi masalah berarti bagi mereka. Kebersamaan mereka sungguh luar biasa. Mereka berangkat dan pulang selalu bergerombol, yang berumur lebih tua menjadi pengayom adek-adeknya. 

Sekali lagi, dan gak akan pernah bosan-bosannya gue mengatakan “salut” dengan semangat belajar mereka. Meskipun dengan segala keterbatasan yang kami punya, mereka tak pernah mengeluh, tak pernah mempermasalahkannya. Pernah suatu kali, bahkan berkali-kali, hujan lebat mengguyur tepat menjelang waktu adzan maghrib. Ya normalnya manusia, iman gue belum mampu menggerakkan kaki gue untuk melangkah ke mushola dibawah guyuran hujan lebat. Alhasil, gue dan temen gue hanya sholat di rumah. Kami berpikir anak-anak pasti juga tak akan datang ke mushola.
 
Ini mati listrik. Cahaya dari flash kamera

Hal yang tak terduga terjadi keesokan harinya. Kami diberondong pertanyaan oleh anak-anak “Mengapa kemarin kakak tidak datang mengaji?” Ceees, hati ini pilu mendengar pertanyaan tersebut guys, beku seketika! Omg, kemaren mereka tetap datang ke mushola meskipun hujan? Jalan kaki? Lha gue? Ada motor, ada jaket tahan air, masih aja cari-cari alasan buat gak pergi ke mushola, miris.

Semangat belajar mengaji mereka sungguh luar biasa. Tak ada yang bisa menghentikannya, hujan mereka terjang, mati listrikpun tak masalah. Iya guys, kalian gak salah baca, mati listrik! Ceritanya begini, waktu itu menjelang waktu maghrib listrik masih aman-aman aja, tak ada masalah. Namun ketika pertengahan sholat, tiba-tiba listrik padam. Gelap gulita. 

Setalah gue menyelesaikan sholat sunah ba’diah maghrib, gue bergegas menuju motor untuk pulang. Gue pikir kalau listrik mati seperti ini, anak-anak pasti tidak mengaji, masa cuma pakai penerangan lilin? Waktu itu gue memang gak pernah membawa handphone ke mushola. Males, gue bukan budak gadjet!
 
Hal yang tak terduga kembali terjadi. Tiba-tiba anak-anak pada teriak tak karuan, “kakak mengaji!” “kakak mengaji!”. What? Mati listrik begini kalian mau masih mau mengaji? Dan ternyata mereka sudah berbaris rapi, membentuk satu banjar untuk menunggu jatah mengaji. Luar biasa! Hanya dengan mengandalkan cahaya lilin, kamipun belajar mengaji. Meskipun sehari cuma satu lembar, mereka tetap istiqomah untuk terus datang ke mushola setiap harinya. Luar biasa, semoga semangat belajar kalian tak pernah padam, bravo!

You Might Also Like

0 komentar