SEMANGAT KEMERDEKAAN DARI TIMUR

August 23, 2018

Merah Putih Berkibar di Bumi Cendrawasih

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya”

Sungguh luar biasa peringatan hari ulang tahun Indonesia yang ke 73. Berbagai kado ulang tahun datang silih berganti, mulai dari Timnas-U16 yang menjuarai kejuaran AFF U-16, hingga gelaran Asian Games 2018 Jakarta-Palembang yang menyedot perhatian dunia internasional. 

Inilah Indonesia bung! Wahai para negara-negara di seluruh penjuru dunia, lihatlah kami. Indonesia kini telah menjadi negara yang besar, kuat, dan berkarakter. Lihatlah rakyatnya, mereka hidup damai tengah keberagaman. Kami terus tumbuh menjadi negara yang mandiri. Pembangunan terus dilakukan. Kami tak mau kalah dengan negara-negara maju.

Lihatlah kemeriahan pembukaan Asian Games ke-18 di Jakarta kemarin, itu hanyalah sepercik keagungan yang Tuhan anugerahkan kepada kami. Masih banyak lagi keagungan yang tersimpan di dalam maupun di permukaan bumi ibu pertiwi. Takperlu kami tunjukkan kepada kalian. Cukup gemuruh puluhan ribu penonton yang hadir di Gelora Bung Karno menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia itu bangsa yang besar.

Siapa kita? Indonesia!


Peringatan HUT Republik Indonesia bukanlah sebuah peringatan biasa. Bukan sekedar pesta. Bukan sedekar hegemoni kontemporal. Melainkan untuk mengenang, memupuk, sekaligus melanjutkan semangat perjuangan para pahlawan, itulah esensinya. Berbagai elemen masyarakat dari Sabang sampai Merauke tak ingin semangat kemerdekaan 1945 luntur begitu saja. 

Kabupaten Teluk Wondama, sebuah kabupaten kecil di pinggiran Taman Nasional Cendrawasih, Provinsi Papua Barat tak mau melewatkan peringatan HUT Republik Indonesia ke-73 begitu saja. Berbagai cara dilakukan guna menyemarakkan semangat kemerdekaan. Keterbatasan fasilitas tak menjadi kendala. Kekurangan dana pun tak jadi masalah. Biarpun sederhana, yang penting semarak!
Semua elemen masyarakat saling bergotong-royong memolekkan wajah kabuupaten yang telah berumur 15 tahun ini. Bendera merah putih berkibar di setiap rumah. Tak ketinggalan bendera warna-warni juga ikut berderet rapi disepanjang jalan. Jembatan-jembatan dicet. Rumput-rumput liar dibabat habis. Berbagai perlombaan khas 17 Agustuspun tak mau ketinggalan ikut menyemarakkan peringatan hari paling bersejarah Republik Indonesia.

Jika boleh dikata, memperingati hari kermerdekaan tanpa adanya berbagai macam perlombaan adalah bagaikan nonton timnas Indonesia tanpa dikomentatori oleh bung Valen. Gak seru bro! Sapi! Eh salah, maksutnya sepi!

Sepanjang Jalan Wasior-Rasiey

Panjat Pinang


Berbagai macam perlombaan dipertandingkan, mulai dari panjat pinang, balap karung, hingga lari marathon 10 Km. Hegemoni kemerdekaan sangat terasa meskipun ditengah kesederhanaan. Namun, sesederna apapun perlombaan yang diselenggarakan, yang terpenting yaitu esensi dari diselenggarakannya perlombaan tersebut dapat tersampaikan kemasyarakat, yaitu kebersamaan, perjuangan, dan sportifitas. 

Merdeka!

HUT RI ke-73 ini sungguh spesial bagi masyarakat Teluk Wondama. Sebuah kado manis dari salah satu hasil pembangunan Republik Indonesia selama ini, yaitu sebuah alun-alun kota. Yups, setelah 15 tahun menjadi daerah otonom sendiri, akhirnya Kabupaten Teluk Wondama memiliki sebuah taman kota yang luar biasa indah. 

Nuansa artistik modern nampak jelas terlihat. Deretan lampu ramah lingkunagan berderet rapi menyinari gelapnya malam Kota Wasior. Bangku-bangku kayu berderet rapi siap menjadi saksi bisu hangatnya persatuan dan kesatuan masyarakat Teluk Wondama yang beraneka ragam.

Mekipun ukurannya tak terlalu besar, tak lebih dari 50 x 50 meter, namun tempat ini sungguh berharga. Inilah harta termewah yang kami miliki. Sekarang, kami memiliki sebuah tempat yang bisa digunakan untuk berkumpul, bermain, ataupun sekedar menghabiskan waktu, ataupun lari dari penatnya rutinitas pekerjaan. Anak-anak mempunyai tempat bermain. Para pemuda mempunyai tempat berkumpul, bercengkrama, maupun berbagi. Sedangkan bagi yang telah berumur mempunyai tempat untuk bersantai, melepas penat.

 Berikut beberapa penampakan alun-alun Masasoya Topai





Alhamdulillah, pemerataan pembangunan memang nyata adanya. Sedikit demi sedikit daerah pinggiran telah merasakan secara langsung dampak dari pembangunan. Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi pemerintah untuk memeratakan pembangunan sebagaimana telah tertuang dalam Pancasila sila ke 5 “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
-0-
Semoga semangat para pahlawan 45 tetap mengalir dalam darah para generasi penerus bangsa.
Siapa Kita? Indonesia!
Siapa Kita? Indonesia!
Merdeka!

You Might Also Like

0 komentar