MENUMBUHKAN CINTA MENULIS

August 11, 2018



Picture by Muh Tabrani. Location: Raja Ampat


Alhamdulillah, tanggal 9-11 November 2017 silam, gue mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Workshop Penulisan yang diselenggarakan oleh instansi tempat gue bernaung, Badan Pusat Statistik (BPS). Selama tiga hari penuh, gue dan rekan-rekan dari seluruh penjuru tanah air, dari Aceh hingga Papua digeber dengan berbagai macam materi  terkait teknik penulisan.

Ini merupakan kesempatan yang luar biasa bagi saya. Pasalnya saya berkesempatan untuk berguru secara langsung dengan para penulis papan atas tanah air seperti Hasudungan Sirait, Kenedi Nurhan, hingga sosok novelis kondang tanah air Ahmad Fuadi. 

Dipostingan gue kali ini, gue mau sharing apa yang gue dapatkan dari workshop tersebut. Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih serius, gue mau kasih satu quote yang luar biasa hebat dari seseorang yang hebat pula,

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” Pramoedya Ananta Toer.

Bagaimana? Keren banget kan quote nya? Luar biasa kan? Gue harap kalian jadi termotivasi untuk menulis. Kalau begitu, mari kita bersama-sama belaajar menuju keabadian. Semua ini spesial dari gue, Aqsha Kral untuk sahabat-sahabatku semua.

-o-

Baiklan, fokus pembahasan kita kali ini kita mulai dari  “Cinta Menulis”.  Yups, modal terbesar dan terpenting yang harus dimiliki seorang penulis adalah rasa cinta. 

Mengapa harus cinta?

Kalau benci untuk mencinta gimana dong? Biar seperti lagunya Naif gitu hehe.  Ups, jangan bercanda, serius!

Cinta menulis merupakan harga mati bagi seorang penulis. Asal kalian tahu ya, menulis itu gak gampang lho. Gue gak bercanda, gue serius! Untuk menjadi seorang penulis, kalian harus rajin dan bisa meluangkan banyak waktu untuk terus latian menulis. Kalau gak percaya, coba tanya teman-teman kalian yang seorang penulis.

Tapi kalau udah cinta pada seseorang, seberat apapun tantangannya, sekeras apapun cobaanya, pasti akan dilalui kan? Gunung akan didaki, samudra akan diarungi, asalkan semuanya kulalui hanya denganmu. #aseeek. Hal serupa juga berlaku kalau kalian sudah cinta menulis. Sesibuk apapun hari-hari kalian, pasti kalian akan menyisipkan sedikit waktunya untuk menulis, meskipun cuma lima belas menit perhari, atau hanya menulis satu atau dua halaman saja perhari, pasti akan kalian usahakan. Ya, begitulah kalau seseorang sudah jatuh cinta. Gue juga pusing mengapa kalau sudah cinta apapun akan dilakukan hehe.

Selain harus punya rasa cinta, seorang penulis juga harus memiliki sifat pantang menyerah. Sekedar info, seorang novelis kawakan seperti Ahmad Fuadi pun membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk menyelesaikan novelnya yang berjudul “Anak Rantau”. Yups, 4 tahun guys! Mungkin bagi kita-kita yang gampang menyerah, pasti sudah kandas ditengah jalan haha. 

Selalu saja berbagai kendala muncul selama kita menyelesaikan sebuah tulisan, mulai dari kebuntuan ide, semangat menurun, rasa bosan, dan lain sebagainya. Itulah kenapa gue menempatkan sifat pantang menyerah sebagai salah satu syarat utama bagi seseorang yang pengen jadi penulis hebat. Menulis itu memang berat, seberat rinduku padamu. Eh bukan-bukan, seberat rindu Dilan kepada Milea maksutku hehe.

Mungkin selama ini teman-teman sering melihat buku-buku yang berjudul “menulis itu mudah” ataupun “Semalam Lancar Menulis” atau sejenisnya di rak toko-toko buku. Gue beri tahu kalian semua ya, kalian jangan percaya kalau menulis itu mudah! Kalau memang menulis itu semudah, pastinya sekarang ini jumlah penulis tumpah ruah dong. Nyatanya hanya ada segelintir saja penulis di negara kita, yang kita lihat hanya itu-itu saja.

Ups, gue gak bermaksud membuat mental kalian down, tapi gue hanya ingin kalian mengetahui dari awal kalau menulis itu susah. Jadi, kalian sudah menyiapkan tekat dan mental dari awal.

Judul-judul buku belajar menulis yang bombastis seperti itu semua hanyalah salah satu cara untuk merayu hati para pembaca agar membeli buku tersebut. Tak lebih dari sekedar penarik perhatian konsumen, atau kata lainnya “nggombal”. Gue disini tidak bermaksud melarang kalian untuk membeli buku-buku semacam itu lho, ataupun menyalahkan penulis buku-buku tersebut. Yang mau gue tekankan disini adalah menulis itu gak gampag, butuh proses yang panjang, gak cukup hanya satu malam

Karena menulis itu sudah, mulai sekarang kalian harus kencangkan ikat pinggang, lipat lengan baju, dan terus menatap ke depan. Jangan sampai kendor! Kalau teman-teman semua sudah jatuh cinta dengan apa yang dinamakan “menulis”, maka tinggal menunggu waktu saja kalian akan menjadi penulis professional. Sabar dan istiqomah. Lama kelamaan menulis menjadi habit dalam hidup kalian. Teman-teman akan merasakan ada yang kurang jika sehari saja tidak menulis. 

Selain itu, yang perlu gue luruskan mengenai dunia tulis-menulis adalah masalah bakat. Tidak dibenarkan jika seorang penulis hebat hanyalah mereka yang memiliki bakat bawaan sejak lahir. Ingat, menulis adalah proses. Proses yang sangat panjang. Meskipun seseorang memiliki bakat menulis yang luar biasa, namun jika tidak pernah diasah, semua itu sama saja, gak berguna. Latihan, latihan, dan latihan adalah syarat yang harus dilalui oleh seorang penulis hebat. 

Lantas bagaimana cara menumbuhkan cinta terhadap dunia menulis?
 
Salah satu cara jitu untuk menumbuhkan rasa cinta kita kepada menulis adalah dengan rajin membaca. Dengan rajin membaca, kalian akan menemukan sense untuk menulis, wawasan akan lebih terbuka, dan tentunya menemukan kiblat dalam menulis.

Setiap orang pastinya mempunyai selera terhadap bacaan yang berbeda-beda, ada yang suka novel, cerpen, jurnal, essay, atau bahkan tulisan remah-remah rengginang seperti tulisan-tulisan gue di blog ini hehe. Semua itu tak masalah, yang penting teman-teman menemukan tambatan hatinya, cie-cie.

Jika kalian sudah menemukan tambatan hati, mulailah untuk membaca, membaca, dan terus membaca secara membabi buta. Belilah buku-bukunya. Kalau gak punya duit, cari diinternet. Membaca adalah harga mati bagi seorang penulis. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Mereka berdua bagaikan ruh dan jasad. Membaca adalah ruh, dan menulis adalah jasad. Tulisan akan terasa hidup jika sang penulis menguasai betul apa yang dia tulis.

Ups, kok sudah 800 kata ya. Gue cukupkan sampai disini dulu ya, lain kali kita sambung lagi. Sebenarnya masih banyak yang ingin gue share ke teman-teman semua, mulai dari teknik sampai manfaat dari menulis itu sendiri.

Di akhir tulisan gue kali ini, ada satu hal yang ingin gue tanamkan hati teman-teman semua, yaitu “cinta menulis” dan “semangat pantang menyerah”. Proses untuk menjadi seorang penulis memang tidak semulus jalan tol Cipali guys! Banyak cobaan dan lika-liku seperti jalanan jalanan di Papua yang banyak lubangnya dan becek. So, brave your self!

You Might Also Like

0 komentar