NUANSA TRADISIONAL MANGUT LELE MBAH MARTO

July 07, 2018

Mangut Lele Mbah Marto

Anak gaul mana yang gak tau dengan tempat-tempat hits di Yogyakarta? Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pelajar dan kebudayaan, seakan-akan setiap jengkal tanah di wilayah ini sarat akan keindahan, mulai dari Jalan Malioboro, Taman Buah Mangunan, Pantai Parangtritis, dan masih banyak lagi tempat-tempat hits yang sangat recommended untuk dikunjungi.

Sektor pariwisata memang menjadi salah satu leading sector perekonomian di Provinsi Yogyakarta. Hal ini terbukti dengan kontribusi sektor Penyedia Akomodasi dan Makan Minum terhadap penyusunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Yogyakarta yang mencapai 10,22% ditahun 2016, sekaligus menempatkan sektor ini menjadi sektor penyumbang PDRB terbesar ke 3. (Sumber: BPS Provinsi Yogyakarta, lebih lengkapnya bisa kunjungi websitenya langsung www.yogyakarta.bps.go.id ).

Sekarang ini, wisata kuliner telah menjadi tren ditengah masyarakat Indonesia. Rasanya ada yang kurang jika kita berkunjung ke suatu tempat, namun tak mencicipi makanan khas dari daerah tersebut. Bahkan tak jarang seseorang rela mengunjungi suatu daerah hanya untuk berburu makanan khas daerah tersebut, Hunting traditional food.

Jangan bilang Yogyakarta adalah kota budaya kalau kalian tidak menemukan kebudayaan yang masih kenthel ditengah masyarakat. Cintanya masyarakat Jogja terhadap budayanya, tak jarang masih ditemui kebiasaan-kebiasaan tradisional yang masih dipeliharan ditengah masyarakat, salah satunya dapat ditemui di rumah makan Mbah Marto.

Lokasi rumah makan ini di Kabupaten Bantul, lebih tepatnya di Dusun Nengahan, Pedukuhan Ngiring-iring, Sewon, Bantul, atau sebelah selatan kampus ISI Yogyakarta. Selain rasanya yang memang memanjakan lidah, cara penyajian di warung makan ini sungguh unik. Para pembeli dipersilakan untuk mengambil sendiri menu yang disajikan di dapur Mbah Marto. Dapurnyapun bukanlah dapur sembarangan. Dapur tempoe doeloe guys! Alat masaknya masih menggunakan “luweng”, semacam alat masak tradisional yang terbuat dari tanah liat dengan perapiannya menggunakan kayu bakar.

Dapur Mbah Marto
 Ketika saya melewati pintu dapur, saya langsung disambut dengan kepulan uap maskan-masakan yang sedang dimasak diatas luweng.  Pokoknya ketika saya memasuki dapur Mbah Marto, saya seperti diajak ke zaman jawa kuno (gak kuno-kuno amat sih gak sampe zaman prasejarah).

Pembeli dipersilakan Mengambil Menu Sendiri

Apa saja menu yang ditawarkan? Ketika saya berkesempatan berkunjung kesana, menu yang tersedia waktu itu adalah mangut lele, mangut ayam, gudeg dan beberapa sayur lain. Mungkin jika gue datangnya lebih pagi, menu yang disediakan masih banyak dan variatif. Tapi waktu itu saya dan teman saya tiba disana sudah hampir pukul 14.00 WIB, jadi menunya udah pada ludes. Kamipun harus menunggu nasi dan mangut lelenya matang dulu.

Mangut Lele dan Gudeg

Oia, rasa dari mangut lele yang disediakan di warung ini sangat unik. Sebelum diberi kuah mangut, lele ini dibakar terlebih dahulu (biasanya digoreng, bukan dibakar). Selama hidup saya, baru kali ini saya menemukan mangut lele yang lelenya dibakar hehehe. Jangan Tanya soal rasa, pastinya rasanya sangat mantap banget, terutama bagi pecinta masakan pedas.

Setelah masakan yang saya tunggu-tunggu matang, ada satu tantangan lagi yang harus dihadapi, yaitu mencari tempat duduk. Yups, karena tempatnya yang tak begitu luas dan pengunjung yang terus berdatangan, kamipun kesulitan untuk mencari tempat duduk. Jika nanti kalian gak dapat tempat duduk, jangan dongkol ya, duduk aja ditumpukan batu depan warung ataupun duduk di atas motor hehehe. Lha wong kondisinya emang kayak gitu kok.

Antri dan Tempat menunggu

Bagaimana dengan harga? Bisa dibilang harganya masih bersahabat dengan kantong anak muda. Saya yang menghabiskan dua porsi makan, ditambah 4 krupuk, dan minum es teh totalnya habis Rp 50.000. Lumayan murah kan? Iya dong, kan lidah saya sudah dimanjakan oleh kenikmatan mangut lele yang luar biasa.

Jadi kalau ada yang kangen dengan nuansa dapur ngepul ala Jawa tempo dulu atau pengen masakah tradisional jawa, datang aja ke warung ini. Lumayanlah untuk bernostalgia bagi para perantau seperti saya. Jujur, di tengah masyarakat Jawa pun sudah jarang ditemukan bentuk dapur yang masih menggunakan peralatan masak tradisional.

Warung Makan Mbah Marto
NB: Akses menuju warung ini lumayan sulit. Saya harus melewati gang sempit. Kalau mau pakai mobil harus hati-hati. Parkirnya pun lumayan jauh dari lokasi warung makan. Tapi tenang aja, ada tukang parkirnya kok. Insyaallah mobil anda aman.

Jalan Masuk Menuju Rumah Makan Mbah Marto
Lokasi Parkir Sekitar 20 Meter Dari Rumah Makan


You Might Also Like

0 komentar