SURVEI PERTANIAN ANTAR SENSUS (SUTAS) DI KAMPUNG NGGATU

May 09, 2018




Kampung Nggatu, Distrik Rasiey
Sektor pertanian dari dulu hingga sekarang masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Mengapa bisa dikatakan sebagai tulang punggung perekonomian nasional? Baiklah tanpa panjang lebar langsung saja gue jawab:
  1. Share Produk Domestik Bruto (PDB) Sektor Pertanian ditahun 2016 mencapai 13,45%, sekaligus menempatkannya di posisi kedua sebagai sektor penyumabang PDB terbesar di Indonesa.
  2. Sektor pertanian menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja  mencapai 30% dari total tenaga kerja ditahun 2017.
Disisi lain, kesejahteraan pekerja di sektor ini masih sangatlah rendah. Bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2017 hampir separuh pendduk miskin Indonesia merupakan tumah tangga pertanian.

Sungguh sangat ironi jika negara yang menyandang negara agraris, nasib sebagian besar petaninya masih terjerembab di jurang kemiskinan. Oleh karena itu, perlu adanya kebijakan pembangunan di sektor pertanian yang mampu untuk mengangkat produktivitas dan kesejahteraan para petaninya. Tentunya agar dapat merumuskan kebijakan yang pas dan tepat sasaran, pastiya membutuhkan data-data yang berkaitan dengan sektor pertanian dan para pekerjanya.

Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018 merupakan survei pertama kali yang dilaksanakan oleh BPS. Tujuan dari survei ini adalah untuk memonitor perkembangan sektor pertanian pasca sensus pertanian 2013 silam. Survei ini dilaksanakan mulai tangal 1 Mei hingga 30 Juni 2018 diseluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Tanggal, 3 Mei 2018, gue bersama seorang mitra survei, panggil aja Bang Sanoi mulai melakukan pendataan rumah tangga pertanian di Kampung Nggatu, Distrik Rasiey. Lokasi kampung ini lumayan jauh dari kawasan perkotaan. Membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor. Eitsss, nggak sembarang motor juga lho, ada spesifikasinya, yaitu harus motor laki! Iyaa, harus laki!
Mengapa harus motor laki? Yups, tentunya karena medan yang begitu aduhai. Tak hanya sekedar menyeberangi sungai dengan arus yang arusya deras eh… sedang-sedang aja sih, tapi ada beberapa spot yang jalannya memang menyusuri sungai-sungai kecil. Pasti kalian heran kan? Beneran gak tu? Beneran, gue gak bohong. Pertamanya aja gue heran, ni jalan benerkah tidak? Kok yang tadinya aspal berubah jadi sungai berbatu gini? Sialnya, jalannya emang bener kayak gitu bro! Yaudahlah, gak papa. Itu semua bukan halangan yang berati bagiku. Kayak gitu mah udah biasa keleeees. Tetap terjang semua haling rintang yang ada meskipun harus dengan kaki diangkat tinggi-tinggi, maklum pakai sepatu, takut basah hehehe.

Melintasi Sungai Dengan Arus yang Lumayan Deras

Setelah menempuh perjalanan yang sangat ngebosenin dengan pemandangan kiri kanan yang tak memukau, hanya sekedar hutan, hutan dan hutan, akhirnya sampai juga di Kampung Nggatu. Kampung ini tidak sepadat kampung-kampung lain. Jumlah rumah tangga yang menghuni kampung ini tidak mencapai 40 rumah tangga. Dan orang-orangnyapun jarang berada di kampung ini. Lebih sering mereka berada di Manokwari maupun Ransiki (Ibukota Kabupaten Manokwari Selatan).
Untuk masalah keamanan, kampung ini terbilang cukup rawan. Sering terjadi pembegalan di sekitar kampung maupun sepanjang jalan menuju kampung ini. Trus gue takut? Nggak lah bro! Laki-laki tulen gak akan takut sama laki-laki tulen, takutnya sama yang laki-laki yang gak tulen, bahaya, banget! hahaha


Setelah gue selesai puter-puter kampung nunjukin batas-batas wilayah dan mendampingi bang Sanoi melakukan pendataan di beberapa rumah tangga gue pamit pulang duluan, masih banyak kerajaan. Bukannya gue sok sibuk, tapi emang beneran sibuk. 

Jalan Menyusuri Sungai
Tatkala gue mau balik ke kantor lagi, Bang Sanoi bersikeras mau mengantarku pulang. Pertamanya gue tolak, gue pengen Bang Sanoi melanjutkan pendataan saja biar cepat selesai. Tapi apa boleh buat, keteguhan hatinya untuk tetap mengantarku pulang begitu menggebu, tak kuasa aku menolaknya. Ternyata semua ini beliau lakukan demi keamanan dan kemaslahatan bersama. Takutya nanti ditengah jalan gue dibegal atau diapain gitu, kan jadi repot. Ingat, ini ditengah hutan bro! jalan kaki sampai ke kota bisa gempor juga kaki ini.

Yaah, hari itu menjadi hari yang lumayan melelahkan. Melakukan perjalanan jauh dibawah sengatan teriknya matahari Papua ditambah jalanan yang terbilang tak semulus wajah artis Korea membuat gue langsung terkapar di rumah. Seandainya sudah ada yang menyambutku di rumah tatkala aku pulang kerja, terus membuatkan hangat, sungguh luarbiasa hidup ini. Tapi naas, semua itu hanya hayalanku hehehe. 


Galery 
 
Pencahahan di Kampung Nggatu

Hamparan Pasir Berbatu Salah Satu Spot Bekas Banjir 2013 silam

Hutan Sepanjang Perjalanan
Jalanan Tak Semulus Wajah Artis Korea

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM