PELAJARAN HIDUP

August 01, 2017

*Juara 1 Lomba Kolami 3 yang Diselenggarakan Oleh BPS Tahun 2017
  
Angin malam bertiup kencang menggugurkan daun-daun kering yang sudah tak kuasa lagi melekat di ranting-ranting pohon yang tinggi. Jatuh ke tanah lalu lebur terurai. Sudah saatnya daun-daun muda bermunculan, menggantikan peran dan tugas yang ditinggalkan oleh daun-daun tua. Hijau, segar, kuat, dan memberikan manfaat bagi sekitar. Hal seperti itu juga berlaku bagi manusia. Ketika umur sudah menginjak usia tua, tak banyak yang bisa dilakukan. Hanya berbaring diatas kasur menunggu waktu malaikat maut menjemputnya. Semua perjuangannya yang pernah dia rintis, sudah saatnya untuk diserahkan kepada para generasi muda. Para generasi penerus.
            Manusia hidup di dunia tidaklah abadi. Hanya sekedipan mata, tiba-tiba sudah berada di usia senja. Di kehidupan yang singkat ini, apa saja yang telah kita lakukan? Apakah masa muda kita memberikan manfaat bagi sekitar? Apakah kita memberikan inspirasi kehidupan bagi umat? Ataukah malah kita menebarkan benih-benih kemaksiatan?
----- 000 -----
Malam itu Wahyu duduk merenung di teras rumah kontrakannya yang sangat sederhana, berdinding kayu dan beratapkan seng. Baru tiga bulan dia berada di pedalaman Tanah Papua. Tuntutan pekerjaanlah yang membuat dia rela meninggalkan kampung halamannya, merantau ke salah satu daerah yang belum terjamah listrik PLN dan internet. Semuanya demi tugas. Semuanya demi negara. Dan yang terpenting ini semua demi masa depannya.
Hari demi hari silih berganti. Semakin lama, Wahyu semakin merasa betah hidup ditengah keterbatasan yang ada. Semakin lama dia tinggal di Papua, semakin paham juga dia mengenai permasalahan-permasalahan yang ada di sana. Meskipun menjadi bagian dari wilayah NKRI, Wahyu merasakan bahwa keadilan sosial belum jua menyentuh daerah dimana dia bekerja sekarang, terutama keadilan dalam mendapatkan pendidikan. Susahnya akses dan minimnya fasilitas penunjang pendidikan menjadi permasalahan utama di Tanah Papua. Bagaimana suatu Negara akan maju jika generasi penerus bangsa minim akan pendidikan? Bukannya generasi muda merupakan pewaris dan penerus usaha dalam mencapai cita-cita bangsa?
Di usianya yang sudah menginjak 24 tahun, Wahyu ingin menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, Negara dan umat.  Dia teringat dengan salah satu Hadist Rasullullah yang berbunyi:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)
            Dengan segala keterbatasan fasilitas dan sumber daya, Wahyu memanfaatkan waktu ba’da Maghrib sampai Isya untuk mengajar anak-anak mengaji dan sesekali menyempatkan diri untuk mengajar ilmu-ilmu yang lain. Meskipun cuma sebentar, Wahyu berharap ilmu yang dapat dia bagikan ke anak-anak dapat bermanfaat kelak di kemudian hari. Seperti firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 92 yang berbunyai:
Allah SWT berfirman :
لَنتَنَالُواْالْبِرَّحَتَّىتُنفِقُواْمِمَّاتُحِبُّونَوَمَاتُنفِقُواْمِن شَيْءٍفَإِنَّاللّهَ بِهِعَلِيمٌ
Artinya “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali- Imron ayat 92)
Menjadi umat minoritas di Tanah Papua, membuat banyak anak-anak susah untuk mendapatkan pendidikan agama terutama baca tulis Al-Qur’an. Maka dari itu, antusiasme anak-anak untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Wahyu sungguh luar biasa. Meskipun waktu belajarnya malam hari, anak-anak tetap berbondong-bondong mendatangi masjid Mereka rela untuk berjalan lebih dari satu kilometer ditengah gelapnya jalanan Papua demi menuntut ilmu.
“Masya Allah, semoga setiap langkah yang ditempuh anak-anak ini untuk menuntut ilmu-Mu mendapatkan keridhoan dari-Mu Ya Allah.” Doa Wahyu setiap kali selesai mengajar mengaji.
            Suatu hari Wahyu duduk-duduk di dermaga pinggiran kota menatap jauh ke cakrawala dan menikmati indahnya lembayug senja. Ada satu pelajaran hidup yang sangat berharga yang dia dapat dari penempatan di Tanah Papua ini, yaitu bahwa sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti sudah diatur sama Yang Maha Kuasa. Tugas kita adalah memaksimalkan kesempatan yang ada untuk menebarkan kebaikan sebelum waktu senja datang menghampiri.

Oleh : Haedar Ardi Aqsha
(Staf Statistik Distribusi BPS Kabupaten Teluk Wondama)
 

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM