UJIAN MTV GAYS!!!!

December 15, 2014

           
Suasana ketika ujian MTV
 
           Ujian tengah semester telah datang!!!! That’s like thunder gonna shake the ground gays. That’s real. I’m not kidding.  Sebagai mahasiswa semester 7 tentunya saya telah banyak makan garam dalam menghadapi ujian-ujian kayak gini. Menurut saya, bagaimanapun kondisi kita saat ini, kita harus tetap harus tenang dan santai menghadapi cobaan ini semua. Selagi ada modul angkatan (kumpulan soal ujian dan jawaban tahun-tahun sebelumnya) semua akan ter hendel. Jurus jitu untuk mendapatkan nilai minimal B adalah menghafal jawaban dari soal-soal tahun sebelumnya. Beneran itu gays, gue serius. Jadi malam sebelum hari H ujian, loe harus jungkir balik hafalin jawaban yang panjangnya kaya kereta shinkansen. Itu pun kalo untung soalnya “sebutkan dan jelaskan apa itu ……” Coba kalo disuruh membuktikan sebuah rumus, contohnya “buktikan bahwa varians dari double sampling adalah ini …..” Byuhhhh, butuh usaha ekstra untuk hafalin alur pembuktiannya. Kok dihafal sih bukan dipahami? Jawabannya adalah untuk memahami pengetahuan absurb seperti itu membutuhkan waktu dan usaha ekstra gays. Sebagai seorang cowok tulen seperti saya ini, jadwal kesehariaannya tu udah padet merayap kayak jalur pantura di H-1 lebaran, jadi gak kober mengutak-utik pembuktian kayak gitu (padahal orangnya kerjaannya cuma tidur dan ngegame”. Akan tetapi disemester 7 ini ada satu matakuliah yang sangat horror, lebih horror daripada seorang mantan, yaitu MPV (Multivariate) atau yang dibahasakan Indonesia Analisis Peubah Ganda (APG). Dari namana kelihatannya kece badai kan gays? Tapi kalian jangan tertipu dengan nama yang kece badai ini lho. Materi ini sama sekali tak bisa di hafal, apalagi di pahami. Mungkin rambut kalian tinggal sehelai setelah kalian berhasil memahami materi ini.  Mata kuliah ini adalah kumpulan dari matakuliah-matakuliah yang mayoritas nilainya “c” yaitu aljabar linear, metode statistic, model linear, dan analisis regresi. Bayangin itu gays, bagaimana tidak rambut gue ini berubah jadi putih semua mikin tu kuliah.

            Sebelum ujian tengah semester, guei telah mengikuti kuliah MPV sebanyak 7 pertemuan. Jangan tanya bagaimana jalannya perkuliahan ini. Statistik memang menjadi salah satu matakuliah paling menyebalkan di dunia. Saking menyebalkannya, 2,5 jam kuliah rasanya seperti 12 jam. Beneran gue gak bohong, kalau loe gak percaya coba masuk ke mata kuliah itu pasti selesai kuliah loe teler berat. Materi yang dibahaspun sangat absurb dan luar biasa aneh bagi kaum maasiswa serba pas-pasan (pas-pasan ipk dan motivasi belajar). Bagaimana tidak, tiap kali pertemuan gue harus dihadapkan dengan matrik varian-kovarian yang gak tau apa itu hakekat kegunaan dan asal-usulnya. Selain materi yang absurb, dosen pengajarnya pun terkenal dengan kehorrorannya. Iya, persis kaya mantan, horror banget.  Terpaksa deh gue mau tidak-mau harus sandiwara pura-pura memperhatikan apa yang dijelaskan oleh dosen. Meskipun gaya telah meyakinkan bahwa gue sedang memperhatikan, tetapi pikiran gue melayang-layang kesana kemari, dan biasanya imajinasi gue hinggap ke seorang gebetan hahahaha. Berimajinasi dengan seorang gebetan memang menjadi obat mujarab bagi gue agar tetap bisa bertahan hidup di perkuliahan ini.  Kalau bahan imajinasi telah habis, mending gue mati aja deh, karena cobaan ini sungguh berat untuk dipikul oleh mahasiswa. Satu lagi hal yang membuat perkuliahan ini sangat berat untuk dilalui oleh gue, yaitu badai rasa ngantuk yang luar biasa. Hal ini mungkin dikarenakan otak gue tak berkerja sesuai yang diharapkan, serasa saraf-saraf otak pada lumpuh seperti ketika berhadapan dengan kamu, iya kamuuu :*
            Setelah melalui tujuh kali perkuliahan yang rasanya persis seperti di penjara Guatanamo, akhirnya tiba juga masa-masa ujian tengah semester. DI masa-masa ini hampir semua mahasiswa tiba-tiba menjadi sosok orang autis setiap kali di hadapkan dengan soal-soal MTV tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan soal-soal tersebut menyuruh kami menyelesaikan suatu permasalahan, sehingga lebih condong ke praktik daripada teori. Padahal selama tujuh kali pertemuan, kami belum pernah dipertemukan kepada praktik penerapan MTV. Ya itulah sebabnya setiap kali gue melihat teman saat sehari sebelum ujian MTV mukanya pada lusuh kaya habis diputusin pacar tercintanya. Jangankan menjawab dengan baik dan benar, sekedar bagaimana menuliskan jawabannya aja pada udah kebingungan.

            Hari H ujian pun tiba. Berbagai alat tempur mulai leptop, buku paket karangan Jhonson yang tebalnya bekan main, sampai meja kecil semua dibawa ke ruang ujian. Maklum saking susahnya mata kuliah ini membuat mahasiswa di bebaskan membawa apa saja yang bisa membuat mereka   lebih mudah dalam mengerjakan soal (meskipun semuanya tak mampu memudahkan dalam mengerjakan soal kecuali leptop). Waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal adalah 2 jam. Mekipun kelihatannya lama, tetapi ketika mengerjakan rasanya begitu cepat, secepat kilat. Nomor satu belum selesai tiba-tiba waktu tinggal satu jam. Padahal ada tiga soal yang harus dikerjakan. Muke gile bener ni. Menit demi menit bergulir dengan cepat secepat aku jatuh cinta kepadamu eeeaaaa. Berbagai jurus telah di keluarkan oleh teman-teman ketika ngerjain soal ini, ada yang lesehan, ada yang ngesot-ngesot, ada yang pura-pura sibuk nge-input data tapi gak tau mau diapain, dan ada pula yang gayanya sok nyante tapi kertas masih kosong. Akhirnya pengawas menyatakan waktu telah selesai. Raut muka melas, lusuh, sekaligus galau tingkat dewa terlihat jelas di setiap raut muka teman-teman. Tetapi untuk beberapa orang mereka malah memancarkan aura kebahagiaan, bukan, mereka buakan orang yang sanggup menyelesaikan semua soal. Tetapi malah mereka yang tidak bisa mengerjakan. Setelah mereka mendengar desas-desus bahwa kebanyakan temannya juga tidak selesai mengerjakan ketiga soal tersebut. Ditambah lagi orang yang paling pinter di kelas juga gak selesai, itu bak berita yang sangat luar biasa membahagiakan. Ternyata bukan gue doang yang tak selesai mengerjakan ini, yes-yes-yes.

            Yah, inilah pengalaman gue di semester 7 ini yang paling gak jelas. Hidup sebagai mahasiswa yang serba pas-pasan memang sungguh berat. Tetapi gue yakin, gue tidak sendiri. Masih banyak teman seperjuangan yang sama-sama berjuang untuk wisuda 2015 J
            

You Might Also Like

1 komentar