PEMBANGUNAAN DESA TERTGINGGAL

October 26, 2014

Panitia PDT STIS 2014



            Tak perlu jauh berjalan ke ujung timur Indonesia untuk menemui wilayah minim akan fasilitas publik. Tak perlu jauh menyusuri lebatnya hutan pedalaman untuk mendapati sebuah wilayah yang tertinggal. Cukup di kabupaten Bogor, Jawa Barat kita dapat menemui sebuah desa yang minim fasilitas publik dan bisa dikatakan sebuah desa yang tertinggal. Kampung Sinar Lari, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor merupakan salah satu kampung yang masyarakatnya sangat membutuhkan bantuan baik itu berupa sarana sanitasi, kesehatan, pendidikan, dan sarana umum lainnya. Jauh dari pusat kota ditambah dengan akses jalan yang rusak parah membuat kapung ini bisa dikatakan terisolasi. Butuh waktu sekitar 1 jam 15 menit dari jalan raya Bogor-Cipanas untuk menuju desa ini. Ban bocor ataupun motor mogok sudah menjadi bumbu penyedap perjalanan menuju desa ini.
            Tanggal 2 sampai 4 Oktober 2014, puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang bergerak dalam panitia Pembangunan Desa Tertinggal (PDT) menyambangi desa Sukawangi guna memberikan bantuan sosial berupa pengobatan gratis, pembagian sembako, pembuatan perpustakaan mini, dan sosialisasi kesehatan. Antusiasme warga terhadap kegiatan ini sungguh luar biasa. Sambutan hangat dari tokoh dan masyarakat setempat terhadap rombongan panitia membuat kegiatan ini terasa lebih nyaman dalam pelaksanaannya. Ratusan warga desa berbondong-bondong menghadiri setiap kegiatan yang di selenggarakan. Pada hari Jumat, 3 Oktober 2014 panitia mengadakan pelayanan pengobatan gratis yang dibantu oleh BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia). Ratusan warga yang didominasi oleh manula rela berpanas-panasan berkumpul didepan rumah bapak Okta, tempat dimana pengobatan gratis diadakan. Meskipun dalam pengumuman pengobatan gratis dimulai pukul 08.00, warga sudah berbondong-bondong mendatangi lokasi pukul 07.00. Ekonomi warga yang dibawah rata-rata dan fasilitas kesehatan minim adalah faktor yang membuat warga sangat antusias terhadap program ini. Tak sedikit kami temui warga yang menderita penyakit keras nyaris tidak bisa berjalan sendiri turut serta berobat gratis. Penyakit kulit juga sering dijumpai. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan tentang pentingnya kebersihan lingkungan.

Pengobatan Gratis
            Sabtu, 4 Oktober 2014, sekali lagi warga berbondong-bondong menuju base-camp kami di kompleks rumah bapak Okta untuk menghadiri sosialisasi kesehatan, program pembedayaan ibu rumah tangga dan pengambilan sumbangan berupa paket sembako. Kegiatan sosialisasi kesehatan dan pemberdayaan ibu rumah tangga sasarannya adalah wanita usia produktif. Program pemberdayaan ibu rumah tangga ini dikemas dalam bentuk pelatihan pembuatan kripik singkong yang berkualitas sehingga mampu dijual dipasaran. Dengan dibekali pengetahuan tentang proses pembuatan kripik singkong yang baik dan higinis. Diharapkan ibu-ibu disini mampu untuk memproduksi kripik singkong berkualitas sehingga akan laku dipasaran. Selain itu panitia juga memberikan sebuah alat pemotong singkong yang tentunya berguna untuk menggenjot produksi keripik singkong dari masyarakat.
Sosialisasi Kesehatan
            Selepas acara sosialisasi kesehatan dan pemberdayaan ibu rumah tangga, warga bergegas merapat ke halaman rumah bapak Okta guna mengambil paket sembako. Meski jumlahnya tak seberapa, tetapi setidaknya bantuan tersebut dapat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski harus berjalan beberapa kilometer, warga tetap antusias datang untuk mengambil jatah sembako. Sebelum kegiatan ini di laksanakan, ketua-ketua RT setempat diberi beberapa kupon yang nantinya akan dibagikan kepada warganya yang membutuhkan.
Pembagian Sembako
            Senyum bahagia tersungging di setiap wajah dari mereka setelah mendapatkan bantuan sembako. Tak hanya itu, mereka juga sangat berterimakasih atas kehadiran kami yang bisa membuat desa mereka menjadi lebih hidup. Menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi sesamanya adalah sumber kebahagiaan yang hakiki. Hidup sebagai makhluk sosial tentunya membuat kita harus saling menolong satu sama lain. Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang kaya dan ada yang miskin. Yang kaya seharusnya membantu yang miskin. Dan yang miskin tentunya harus berusaha untuk bangun dari kemiskinan yang menjeratnya.

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM