ROMANCE PERCINTAAN

April 01, 2014


Jumat sore, awan mendung menyelimuti kota Jakarta. Orang-orang bergegas pulang dari kantor menuju rumah secepatnya, sebelum hujan deras membasahi datang membasahi segalanya. Lalulintas ibukota yang siangnya lancar, sekarang berubah macet nyaris tak bergerak dibeberapa titik persimpangan. Sesekali terdengan bunyi klason mobil tanda si pengemudi sudah tak sabar berkumpul dengan keluarga yang telah menunggu di rumah. Saat itu tepat pukul 17.00, satu jam lagi saatnya makan malam bersama keluarga, momen terindah setelah seharian suntuk melakukan berbagai aktivitas yang memeras tenaga dan pikiran.
Lantunan lagu pop Indonesia terdengar merdu di dalam mobil sedan yang dikendarai oleh Reza Ar Rosyidi. Pemuda 21 tahun yang akrap dipanggil Reza merupakan seorang mahasiswa jurusan teknik sipil di salah satu universitas terkemuka di Ibukota. Cuaca sore itu merupakan cerminan hati Reza yang sedang dilanda kegalauan. Penampilan yang kalem dan rieks merepresentasikan dirinya yang memiliki hati yang gentle. Sore itu pikirannya melayang-layang mengejar sosok pujaan yang sudah hampir setahun yang lalu dia dambakan.
            Perempuan berjilbab berasal dari Padang yang akrab di panggil Rani mampu untuk mengembalikan lagi perasaan cinta Reza yang sudah lama dia buang dari kehidupannya. Dia yang berparas ideal dan ditambah lesung pipit di kedua  pipinya membuat sosok yang satu ini terasa manis jika dipandang. Sifat perempuannya yang anggun terpancar dari sinar matanya yang bening mempesona. Meskipun mereka satu kampus, tetapi Rani mengambil jurusan kuliah berbeda dari Reza, dia mengambil jurusan Sastra Indonesia. Dia lah perempuan yang saat ini membuat hati Reza terusik. Kedatangan sosok Rani di kehidupan Reza mampu membuat perasaan Reza tak karuan, boleh dikata bahwa Reza mabuk kepayang oleh sosoknya yang menawan.
            Tiba-tiba hujan semakin deras. Reza pun memilih untuk menepi mencari kedai kopi untuk merilekskan badan, toh jika terus melanjutkan perjalanan kemacetan semakin parah akan dia jumpai karena hujan. Kedai kopi yang Reza singgahi memang tak terlalu mewah tetapi suasananya sepi dan nyaman, cocok untuk hatinya saat ini. Setelah memesan secangkir kopi moccacino dan beberapa kue di meja pemesanan, dia mencari tempat duduk yang cocok dan nyaman. Duduk di pojok dan samping kaca lebar sambil menerawang derasnya hujan diluar adalah pilihan terbaik buatnya.
            Sosok Rani tak mau enyah dari pikiran Reza. Entah kenapa perempuan yang satu ini mampu mengusik perasaan cinta yang telah lama dikubur olehnya. Dari waktu dia SMA, tepatnya kelas 11, saat itulah dia terakhir kali memelihara rasa cinta kepada seseorang. Tapi keindahan cinta yang banyak orang katakan tak juga dirasakan oleh Reza. Hambar dan membosankan, itulah yang dia rasakan. Sampai menjelang akhir masa SMAnya akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi sandiwara cinta yang dia jalani. Tak ada suatu keindahan dari apa yang dikatakan oleh cinta. Sejak saat itu, dia membuang jauh-jauh perasaan cintanya. Cinta hanya akan menyakiti perasaan seseorang yang tak seharusnya dia sakiti.
            Seiring berjalannya waktu, cinta yang telah dibuang jauh-jauh dari diri Reza secara tak sengaja kembali menyapa dirinya dengan wajah yang berbeda. Sudah tiga tahun lamanya dia tak lagi  merasakan apa yang dinamakan cinta. Kehangatan cinta, desir-desiran cinta, sekarang semua itu dia bisa merasakannya setelah bertemu dengan Rani. Memang rasa itu tak hadir dalam pandangan pertamanya, tetapi rasa itu tubuh subur seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan intensitas pertemuan mereka. Semakin rasa cinta itu dibiarkan, semakin gencar pula rasa itu mengusik hari-harinya. Entah mengapa Reza tak bisa mengusir desir rasa cinta terhadap Rani, seakan dia menyerah untuk bertarung memeranginya. Atau mungkin Rani merupakan takdir hidupnya? Sosok yang dikirim Sang Kuasa terhadap dirinya? Pertanyaan pertanyaan itu pernah terpikir oleh nya, tapi Reza seakan enggan untuk memikirkannya leih jauh, biar waktu yang menjawabnya.
            Seorang pelayan perempuan muda menegur Reza, membuyarkan lamunannya yang sudah terbang jauh dari kepalanya. Pelayan tersebut mengantarkan secangkir kopi dan sepotong kue pesanannya. Reza langsung menyeruput seteguk kopi yang masih mengepulkan uap panas. Rasa pahit khas kopi hitam terasa khas dilidah Reza. Mata Reza kembali menerawang suasana luar, hujan sudah mulai berhenti meski masih meneteskan sisa-sisa air dari atap-atap bangunan.
            Tiba-tiba pikiran Reza mengajaknya bernostalgia dengan kenangan tatkala dia sama Rani awal saling kenal. Waktu itu mereka baru duduk di semester dua ketika mereka ikut seleksi suatu organisasi kampus. Ketika itu mereka belum saling kenal, masih asing dengan muka satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, peserta seleksi organisasi tersebut semakin berkurang. Memang seleksi organisasi ini terkenal berat dan membutuhkan waktu yang panjang. Ketika memasuki tahap akhir seleksi, peserta hanya tersisa delapan orang, tepatnya 5 laki-laki dan 3 perempuan, Rani dan Reza adalah bagian dari mereka. Dari delapan orang inilah terbentuk suatu ikatan kekeluargaan yang erat, kuat dan tentunya saling menjaga.
            Tapi entah darimana datangnya, Reza mulai tertarik dengan sosok Rani. Mungkin kesamaan hobi, sifat dan pemikiran membuat hati mereka terpaut satu sama lain. Tapi itu semua tak diharapkan oleh Reza. Cukuplah mereka saat ini membentuk suatu ikatan yang mereka kenal dengan kekeluargaan. Tidak lebih, hanya itu yang diinginkan Reza. Tetapi seiring berjalannya waktu rasa ingin memilki Rani terbesit dalam hati Reza, memiliki dalam arti personal yaitu kekasih. Kekasih yang selalu menemani hari-harinya, tempat berbagi cerita dan keluh kesah maupun kebahagiaan dalam hidupnya.
            Mungkinkah ini waktu yang tepat bagi dirinya untuk mulai merintis romance percintaan yang kelak akan mengantarnya di panggung pernikahan yang banyak orang harapkan?
            “Mungkin saja, Tuhan telah menurunkan sosok penjaga hati dalam hidupku di umur 21 ini. Toh aku juga butuh waktu untuk lebih mengenal dan menyatukan perasaan Antara aku dan Rani. Mungkin nanti waktu umurku mrnginjak 24 aku sudah siap untuk mengunjungi keluarganya di Padang.” Pikir Reza dalam kesendirian.
            Adzan maghrib sayup-sayup terdengar ditengah kebisingan lalulintas Jakarta. Segera Reza mencari masjid terdekat guna menjalankan tiga rakaat berjamaah.  Di dalam sosok Reza, terdapat jiwa religious yang sangat kuat. Agama adalah prioritas utamanya. Setelah bertanya kepada resepsionis lokasi masjid terdekat, reza setengah berlari bergegas menuju kesana. Sholat maghrib waktu itu terasa syahdu bagi Reza. Di tengah kegalauan hatinya, dia menghadap kepada Sang Kuasa, dia berdoa tunjukkanlah jalan terbaik baginya, dan tuntunkanlah dia untuk mendapat jodoh yang cocok untuk dirinya.

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM