RAMADHAN 1434 KU :D

July 15, 2013


Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu lagi di bulan yang penuh berkah, penuh ampunan dan penuh akan limpahan pahala dan nikmat dari Allah SWT, yaitu bulan Ramadhan 1434 H. Seperti Ramadhan tahun lalu, awal bulan Ramadhan kali ini saya lalui tanpa hangat riuh keluarga di kampung halaman. Saya terasing tersendiri di kota perantauan tempat saya mengenyam penddikan perguruan tinggi, Jakarta kota Metropolitan. Okey, di postingan ku kali ni saya akan menceritakan serba-serbi Ramadhan 1434 H di tanah perantauan.

Tak mudah menjalankan serangkaian ibadah bulan Ramadhan di perantauan, terutama di Jakarta. Sahur susah, buka puasa juga susah. Kenapa demikian? Sebagai anak perantauan yang masih lajang seperti saya ini memang sangat malas dan tak punya niat untuk masak sendiri buat sahur ataupun berbuka, meskipun saya tingga di kontrakan bersama 3 teman se penanggungan. Alhasil, sebagai konsekuensinya saya dan teman-teman sekontrakan pun harus rela berjuang bangun pukul 03.00 dinihari untuk bangun dan bergegas pergi ke warteg untuk membeli santap sahur. Bengan mata yang masih separo terbuka dan otak yang masih gak mau disuruh kerja, kami berjuang untuk melintasi gang-gang sempit untuk menuju warung tegalan terdekat. Hanya dengan mengeluarkan uang Rp 7.000,00 kami bisa membawa pulang nasi bungkus segunung, sayur dan telur dadar, itulah menu favorit saya yang sehat. Ya kalian bisa bayangin sendiri porsi warteg mahasiswa sebanyak apa. Sampai-sampai setiap habis buka dan sahur saya tak mampu lagi untuk berjalan maupun sekedar mandi sebelum shalat tarawih hehehe. Pernah terbesit pikiran, “mungkin kami gak akan repot-repot cari sahur malam-malam ataupun cari buka di luar jika kita cepetan punya istri”. Yah, mungkin itu ide gila dipikiran kami yang menderita depresi berat akan perjuangan cari makan buat sahur dan buka puasa di tanah rantau. Tapi tak apalah, asalkan kami tetap bisa menjalankan sunah Rasul “bersegeralah untuk berbuka dan akhir-akhirkanlah sahurmu” kurang lebih intinya kaya gitu. (Maaf hadistnya gak hafal hehehe)

Selain kendala akan sahur dan buka puasa, minggu pertama dan kedua ramadhan 1434 H kali ini juga dihiasi dengan UAS. Oh my God!! What a pity am I??? Jangan Tanya saya belajar atau tidak, buat bisa melek sehabis tarawih aja susah mana bisa kami belajar dengan maksimal. Selain itu waktu yang paling efisien buat belajar yaitu setelah sahur pun tak berlaku bagi saya. Sekali ngantuk ya tetap ngantuk. Obat ngantuk ya tidur. Itulah teori gila saya yang tentunya masuk akal dan diterima banyak orang hehehe. Lha terus saya hanya bisa memaksimalkan waktu sore hari dan satu jam sebelum ujian dimulai untuk belajar #itupunkalogakngantuk. Terus ada satu hal yang nisbi bagi saya dan teman-teman sekontrakan, yaitu “laper ngantuk, kenyang juga ngantuk.” Inini yang membuat saya tak produktif di Ramadhan, kerjaannya hanya tidur dan tidur mulu. Bener sih tidur tu ibadah, tapi besaran mana pahala orang tidur sama orang belajar atau ngaji hayooo??? Akan tetapi ditengah malasnya belajar, selalu ada istilah indah yang ada dipikiranku “belajar bukan untuk nilai, belajarlah untuk Allah, siap tau ntar gede jadi kaya Ibnu Sina ataupun Ali bin Abi Tholib”.

Dampak kami gak belajar pun terasa ketika waktunya ujian. Saya hanya mampu memandangi kertas folio 4 halaman terisi dengan jawaban absurb, dengan tulisan besar-besar dan sepasi lebar-lebar. Oia, ada satu lagi teori saya ketika uas yaitu, “Setidak bisa apapun kalian ngerjain soal ujian, isilah lembar jawabanmu sepenuh mungkin, syukur-syukur nambah kertas biar hati kita merasa lega meskipun jawaban yang kita tulis gak jelas”. Teori saya diatas bukannya tanpa landasan. Coba dipikir-dipir lagi. Kalo dosen ngoreksi lebih dari 100 lembar jawab mahasiswa yang mayoritas jawabannya 4 halaman folio tentunya si dosen juga akan merasa capek dan bosen. Kalo kita lagi hoki, pas ngoreksi jawaban kita konsentrasi si dosen lagi down dan capek maka si dosen akan malas-malasan ngoreksi jawaban kita. Alhasil si dosen hanya ngoreksi dengan metode scanning, dan karena jawaban kita panjang, maka si dosen akan memberi kita nilai bagus. Gimana bro? setuju gak dengan teori ane? Kalo gak percaya coba aja sendiri besok waktu loe gak bisa ngerjain ujian wkwkwk. Oia, tambah lagi hal penting setelah agan-agan ngelakuin itu semua yaitu, pasrahkan semua hasil yang agan kerjain kepada Allah SWT. Karena semua usah yang kita lakukan Allah lah yang nentuin. Maka keep praying to Allah :D

Oke, balik lagi ke serba-serbi Ramadhan di peran tauan. Menurut saya ada satu fenomena yang sangat-sangat classic bagi mahasiswa yang berkantong tipis seperti kita-kita yaitu, hampir setiap hari diajak buber alias buka bersama sama temen kelas ataupun temen ukm bahkan ada juga yang buber himada. Oh my God!! Banyak banget kan?? Tapi dibalik itu semua ada hal menyebalkan yang selalu saya sorot yaitu “ mengapa semua ajakan buber selalu ke d’cost? -,-“. Sampai-sampai saya berpikir kalau mbak-mbak pelayan di d’cost kali bata hapal kalau ada rombongan pemuda pemudi yang selalu ribut dan bertingkah aneh, pasti itu dari STIS. Mungkin itu bisa benar atau bisa juga salah, hipotesisnya belum saya uji hehehe. Never mind, semua itu hanya bercanda kawan :D. Saya tetap antusias kok buber bersama teman-teman meskipun tempanya di d’cost terus, asalkan tali silaturahmi kita gak terputus, syukur-syukur malah semakin kuat sekuat tali tambang.

Itulah serba-serbi Ramadhan 1434 H saya di tanah perantauan ibukota. Meskipun jauh dari rumah, ibadah Ramadhan harus terus mengalir seperti aliran sungai Nil yang tak akan pernah berhenti. Alangkah ruginya jika kita menyia-nyiakan waktu yang diberian oleh Allah SWT kepada kita untuk menambang pahala sebanyak-banyaknya.

You Might Also Like

0 komentar