KEGELISAHAN IRA

March 19, 2013


 “Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan untuk bisa menahan rasa cinta hamba kepada dia. Jangan biarkan rasa cintaku kepadanya melebihi rasa cintaku pada-Mu ya Allah.”
            Itulah doa yang selalu Ira panjatkan setelah menunaikan kewajiban seorang hamba Allah, sholat. Dia tak pernah lupa menyisipkan doa tersebut di dalam panjangnya doa yang selalu dia panjatkan kepada Sang Kuasa. Ira takut akan rasa cinta yang pertama kali dia rasakan ini tak bisa ia kendalikan. Rasa cinta yang dahsyat, rasa cinta kepada sosok laki-laki yang akan menomor duakan rasa cintanya kepada Allah.
            “Nauzubillah, jangan sampai rasa cintaku kepada dia mengalahkan rasa cintaku kepada-Mu ya Allah. Tolong jaga hati hambamu ini Ya Allah, Engkaulah yang Maha Pembola-balik hati.” Gumam Ira dalam hati.
            Malam itu Ira beranjak ke tempat tidur lebih cepat dari biasanya. Wajah cantiknya terlihat lelah akan aktivitas kampus mulai dari pagi hingga menjelang petang. Banyak tugas yang harus dia selesaikan hari itu. Ira yang seorang aktivis kampus memang selalu sibuk. Tidak pernah punya waktu untuk memikirkan akan cowok. Sosok Ira yang mempunyai paras cantik, tinggi, cerdas, dan sholehah tak elaknya menjadi sosok idola para kaum adam di kampusnya. Akan tetapi hal itu tak membuat Ira sombong, malahan Ira tak begitu memikirkan akan kepopularannya dikalangan para cowok. Ira memang belum berminat untuk terjun di dunia perpacaran, dia masih asik akan dunia persahabatan dengan sahabat-sahabatnya yang selalu ada kapanpun dan dimanapun dia berada.
“Belum saatnya!! Entar kalau sudah lulus kuliah saja.” Jawab singkat Ira ketika ditanya oleh temannya kapan dia punya pacar.
Akan tetapi sekokoh-kokohnya karang di tengah lautan, lama-lama juga akan terkikis. Ira yang biasanya cuek akan perasaannya kepada seorang cowok, tiba-tiba sekarang dibikin galau oleh rasa cinta.  Siang - malam dia selalu merindu akan sosok yang ia temui saat pertemuan perwakilan mahasiswa antar Universitas se Jakarta. Meskipun saat itu dia hanya sebentar bertatap muka dan hanya kenalan seadanya saja, tapi otak Ira merekam jelas setiap detail kejadian itu. Mulai dari cara dia menatap Ira, cara berbicaranya, hingga setiap gerak-geriknya saat itupun masih membekas jelas di memori Ira. Laki-laki itu adalah Najib. Mahasiswa semester 4 di salah satu universitas ternama Jakarta. Sosok yang kalem dan hangat membuat pertahanan Ira akan rasa cinta kepada laki-laki seketika itu roboh bak diterjang ombak.
Sebulan berlalau setelah pertemuannya dengan Najib. Akan tetapi perasaan Ira kepada Najib tetap membara seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sebagai aktivis kampus, Ira selalu sibuk mengurusi kegiatan-kegiatan baik itu intra kampus maupun antar kampus. Saat itu bulan desember 2010. Kebetulan di kampus Najib akan menjadi tuan rumah dalam acara pagelaran pentas seni mahasiswa se Jakarta. Ira yang ditunjuk sebagai salah satu wakil delgasi dari kampusnya, pagi-pagi bersama dengan tim kampusnya yang terdiri dari 3 orang berangkat menuju Kampus Najib yang letaknya lumayan jauh dari kampus Ira.
Setibanya dilokasi pertemuan, sudah banyak mahasiswa dari universitas lain berkumpul dan berbincang-bincang. Tak lamasetelah itu, rapat pun dimulai.  Tiba-tiba hati Ira berdesir melihat sosok laki-laki duduk tak jauh didepan Ira.
“Najib, itu Najib!!.” Jerit Ira dalam hati.
Seketika itu pula perasaan Ira tak karuan, senang, grogi, dan kaget bercampur aduk. Dag-dig-dug, jantung ira berdegup lebih kencang dari biasanya.
“Ya Allah, apa yang terjadi, kenapa disaat penting dan butuh konsentrasi seperti ini perasaan ku malah kaya gini.” Ira mengadu kepada Tuhan dalam hati.
Setelah pemimpin rapat selesai membacakan agenda dan bentuk acara, tiba saatnya untuk pembentukan panitia. Entah ini musibah atau anugrah buat Ira. Dia menjadi satu tim sama Najib, seksi acara. Seksi acara terdiri dari 8 orang, dan Najib menjadi koordinatornya. Sebelum rapat selesai, para panitia disuruh untuk kumpul dan membahas tugas-tugas tiap seksi. Najib pun memimpin seksi acara untuk membahas segala keperluan dan susunan acara dalam pentas seni yang diselenggarakan saat malam tahun baru. Dengan cekatan dan bijaksana Najib memimpin seksi acara membahas keperluan mereka.
Tak disangka waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Sudah lebih dari 2 jam rapat bergulir. Dan akhirnya pukul 15.00 rapat pertama panitia pentas seni mahasiswa se Jakarta di tutup. Setelah shalat Asar berjamaah di masjid, Ira se rombongan pulang. Mereka berencana pulang dengan menggunakan angkutan umum, diasamping murah, mereka juga sudah terbiasa naik angkutan umum ibukota yang tingkat kenyamanannya sudah mulai membaik. Kampus Najib merupakan salah satu kampus terfavorit di Indonesia, sehingga kompleks nya pun begitu luas. Ira pun harus berjalan kaki terlebih dahulu sekitar 300 meter untuk sampai di halte.
Ketika baru mencapai pertengahan jalan tiba-tiba, langit Jakarta menumpahkan air skala besar. Ira dan rombongannya kebingungan mencari tempat berteduh. Mereka pun berlari mencari tempat berteduh terdekat.
“Tiiin.. tinnnn...” Tiba-tiba ada mobil mendekat ketika mereka berlari-lari mencari tempat berteduh.
“Hei, ayo masuk mobil aja, disini gak ada tempat berteduh.” Teriak seorang laki-laki dari dalam mobil.
Lantas Ira dan kawan-kawannya mendekat ke mobil itu dan tak disangka, Najib. Ya, orang yang mengemudikan mobil itu Najib. Tanpa sungkan-sungkan kawan-kawan Ira masuk mobil. Beda halnya dengan Ira, dia terpaku melihat Najib yang duduk di kursi sopir.
“Apa ini rezki-Mu ya Allah? Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Gumam Ira dalam hati.
“Ayo masuk aja Ira, jangan sungkan. Entar keburu basah.” Teriak Najib yang membuyarkan lamunan Ira.
Tak disangka kaki Ira dengan sendirinya melangkah masuk mobil Najib. Sekarang mobil Fortuner itu disesaki oleh 4 orang penumpang yang basah kehujanan.
“Kalian gak bawa kendaraan pribadi?” Tanya Najib memecah keheningan.
“Enggak, kami kesini naik angkutan umum aja.” Jawab salah satu teman Ira, Nisa.
“Oooo” Jawab Najib singkat.
“Eh, ngomong-ngomong kosan/rumah kalian mana?” Mendadak Najib bertanya kepada mereka.
“Di jalan Otista 3 no 34.” Jawab Nisa
“Oh, kebetulan, rumahku juga searah dengan kalian. Aku antar kalian sampai kosan boleh?” Tanya Najib dengan riang.
“Oke, gak papa. Asal enggak ngrepotin kamu aja.” Jawab Nisa dengan diakhiri senyuman.
“Enggak kok, ngapain juga ngrepotin. Kan pertamax yang dikeluarin sama aja, gak nambah. Prinsip ekonomi gitu lho, memaksimalkan apapun yang ada. Hehehe.” Canda Najib.
“Hahaha, pinter juga ternyata kamu.” Sahut Nisa dengan penuh canda.
Di dalam mobil, Ira hanya diam membisu. Dia tak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Dia terpaku akan sosok Najib yang periang, keren dan tentunya baik hati. Akan tetapi semakin lama di dalam mobil ini membuat hati Ira semakin kacau. Dia tidak mau rasa cintanya kepada Najib tumbuh subur di hatinya. Dia tak mau penderitaan akan sakitnya memendam cintanya semakin kronis.
40 menit perjalanan dari kampus Najib ke Otista 3 terasa begitu cepat. Sekarang mereka sudah berada di depan kontrakan mereka. Najib pun langsung berpamitan kepada mereka untuk langsung pulang. 
Segera Ira dan kawan-kawannya masuk ke kontrakan. Setelah mandi dan ganti baju, mereka berkumpul di ruang tamu dambil nonton berita sore. Kecuali Ira. Ira tak terlihat bersama mereka didepan televisi. Ira malah mengurung diri dalam kamar. Entah apa yang dipikirkannya, sulit untuk dideskripsikan. Antara senang, sedih, cinta, galau, semuanya campur aduk jadi satu. Kekhawatiran rasa cintanya kepada Najib akan megalahkan rasa cintanya kepada Allah pun hadir kembali. Dia tidak mau setiap detik dari hari-harinya disibukkan oleh pikiran tentang Najib, dia tak mau mengganti pikiran tentang Allah menjadi Najib. Jangan sampai itu terjadi.
Malam itupun Ira bangun, shalat dan mengadu segala kegundahannya kepada Sang Maha Pengasih. Malam itupun Ira habiskan utuk curhat, memohon pertolongan kepada Allah SWT atas segala perasaan yang sedang dia rasakan. Tak sadar air mata Ira pun menetes di pipinya. Setiap tetes air matanya yang mengalir lembut dipipinya menandakan betapa dalam rasa cinta yang sekarang membuat hati Ira resah. Sebenarnya bukan resah yang Ira rasakan, tetapi rasa ini sulit terdeskripsikan. Orang yang pertamakali jatuh cinta dan dan belum siap untuk menerimanya, belum waktunya. Itulah yang dirasakan Ira. Takterasa kumandang adzan subuh berkumandang, membangunkan Ira yang merenung dan khusuk berdoa kepada Allah SWT.
Setelah itupun hati Ira menjadi lebih tenang dan damai. Ira menyibukkan dirinya untuk mengalihkan perasaannya. Akan tetapi rasa cinta memang tidak bisa dilenyapkan. Sesekali Ira masih terbayang akan sosok Najib yang dia kagumi. Kita hanya bisa mengalihkan rasa cinta, tetapi tidak bisa melenyapkannya seketika.

You Might Also Like

0 komentar