MINIMNYA LAHAN HIJAU DI JAKARTA

December 30, 2012


             
            Jakarta terkenal akan kota metropolitan. Sebagai kota terbesar di Indonesia, Jakarta memiliki banyak masalah, mulai dari lingkungan kumuh, banjir, kemacetan, kriminalitas tinggi sampai minimnya lahan hijau. Padatnya penduduk yang mendiami Jakarta juga menjadi kendala utama dalam perancangan pembangunan kota. Urbanisasi masih menjadi fenomena masyarakat Indonesia. Mengadu nasib di ibukota dengan skill yang terbatas membuat Jakarta semakin kaya akan pengangguran dan lingkungan kumuh. Peliknya masalah ibukota membuat pemerintah Provinsi DKI Jakarta pandai-pandai memilah kebijakan yang paling efisien dan tepat sasaran.
            Berbagai kebijakan sudah pemprov rancang dan realisasikan. Mulai dari program bus way, car free day sampai pembuatan banjir kanal timur. Kebijakan-kebijakan itu bertujuan untuk mengurai kemacetan dan bencana banjir yang tiap tahunnya selalu menghampiri ibukota. Tanpa harus mengesampingkan masalah-masalah arteri Jakarta, pemprov DKI seharusnya juga membuat kebijakan tentang lahan hijau demi meningkatkan kualitas lingkungan Jakarta yang layak huni. Kualitas udara dan air tanah di Jakarta semakin lama semakin buruk, polusi menyerang Jakarta mulai dari udara, air sampai tanah. Apa jadinya kota modern yang menjadi simbol negara Indonesia tumbuh menjadi kota polusi.
            Taman kota mempunyai multifungsi di kota metropolitan seperti Jakarta. Sebagai paru-paru kota adalah salah satu fungsinya. Polusi udara yang ekstrim membuat Jakarta sebagai kota yang tidak layak huni, membahayakan bagi kesehatan penduduknya. Kadar karbon monoksida dan CFC yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil membuat suhu udara di Jakarta semakin panas. Efek rumah kaca sudah dapat kita rasakan di Jakarta. Minimnya lahan hijau di Jakarta semakin memperparah polusi udara di Jakarta. Ditebangnya pohon-pohon di bahu-bahu jalan yang akan dibuat jalan-jalan baru, digusurnya taman-taman hanya untuk didirikan mall ataupun apartement baru, membuat paru-paru Jakarta semakin sempit.
            Jakarta sekarang sudah berbeda dengan jakarta era 70-an. Jakarta yang modern tidak bersahabat dengan anak-anak kita. Mereka kesulitan mencari lahan untuk bermain bersama layaknya anak-anak seumurannya. Jalan beraspalpun mereka jadikan tempat bermain, meskipun bahaya selalu datang menghapiri mereka. Kita pasti tidak asing lagi melihat anak-anak seumuran anak SD bermain bola, lopat tali dan kejar-kejaran di jalanan kampung. Hal ini mengidentifikasikan bahwa Jakarta sangat kekurangan lahan hijau. Alangkah indahnya jika setiap sore maupun setiap pagi di akhir pekan kita bisa melihat anak-anak kita bermain bersama di suatu taman yang sejuk, sambil berolahraga ringan dan menghirup udara segar. Hal itu tidak hanya menjadi angan-angan jika keberadaan taman kota ada di sekitar kita.
            Tentu ditelinga warga Jakarta tidak asing lagi mendengar kata banjir. Di bulan Desember sampai Februari banjir selalu menghantui Jakarta. Tiap tahunnya banjir selalu menyapa ibu kota. Minimnya daerah resapan air adalah salah satu penyebabnya. Taman kota yang minim membuat banjir di Ibukota semakin tak terelakkan. Hampir semua tanah di Jakarta tertutup oleh aspal maupun beton. Kalau tidak taman kota, dimana lagi air bisa terserap ke tanah?
            Banyak manffat yang dapat kita ambil dari keberadaan taman kota, mulai dari paru-paru kota, tempat bermain maupun berolahraga, sampai menjadi tempat daerah resapan air. Kota yang bagus seharusnya menyediakan lahan hijau yang cukup di setiap kecamatan maupun kelurahan sebagai sarana untuk berolah raga dan melepas penat masyarakat. Mengingat di Jakarta ini sulit untuk menemukan lahan hijau seperti ini, membuat masyarakatnya malas akan berolahraga. Lahan hijau kota memang sangat fital keberadaanya di suatu kota. Semodern-modernnya suatu kota tak akan masuk katagori kota yang sehat tanpa adanya lahan hijau.

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM