DEMI SELEMBAR RUPIAH

November 18, 2012


            Dulu tak pernah terpikir susahnya mencari uang. Susahnya ayah mencari lembaran rupiah demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan keluarganya tercinta. Kami hanya duduk berleha-leha sambil menunggu ayah pulang membawa berlembar-lembar uang tanpa peduli susahnya, kerasnya usaha untuk mendapatkan selembar rupiah.  Menghabiskan rupiah demi rupiah untuk berfoya-foya tanpa rasa iba ataupun kasihan kepada sang ayah yang telah membanting tulang, menguras keringat, bahkan sampai punggung membungkuk hanya untuk mendapatkan selembar demi selembar rupiah. Hebat, sungguh hebat perjuangan seorang ayah demi memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya. Dia rela berkorban , apapun dia pertaruhkan untuk bisa membahagiakan istri serta anak-anak beliau.
            Dan tanggal 15 November 2012, aku mencicipi seciprat keringat yang dikeluarkan seorang ayah demi mendapatkan rupiah demi rupiah itu. Hanya seciprat keringat, hanya SECIPRAT!!! Tetapi, apa yang saya rasakan saat itu? Badan remuk, mental, emosi, pikiran habis terkuras. Pergi dari rumah pagi dengan segar, pulang dengan wajah lesu, kulit kusam, dan baju berantakan. Samakah yang dirasakan ayah selama ini? Tentu saja tidak ada apa-apanya usahaku ini.
            15 November 2012, saya bersama teman-teman se almamater melakukan tugas survei pengunjung di suatu pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Saya dan teman-teman berangkat dari kosan menuju lokasi survei sekitar pukul 09.10 WIB. Kami menggunakan jasa angkutan umum untuk mencapai lokasi agar bisa menghemat biaya transport meskipun harus berjubal dengan orang-orang lain yang mempunyai keperuan sama dengan kami, yaitu mencari rupiah. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di lokasi.
            Setibanya di lokasi, kami di briefing sebentar oleh kakak penanggung jawab. Setiap orang dari kami diberi tugas untuk mengisi 20 quesioner dengan respondennya adalah para pengunjung di pusat perbelanjaan tersebut.
            “uiih, banyak banget, apa aku bisa mendapatkan 20 responden?” gumamku dalam hati.
            Maklum, saya baru pertama kali melakukan survei. Perasaan campur aduk berkecamuk dalam hati dan otak saya, grogi, takut, dan gak pd bersatu menjadi es campur pahit dalam perasaan saya waktu itu. Dan akhirnya waktu beraksi telah tiba. Saya dapat jatah di lantai 3. Setiap langkah menuju lantai 3 kuiringi dengan doa dan dzikir, semoga Allah memberikan kemudahan kepada saya untuk menjalankan tugas ini. Dan akhirnya saya telah menapakkan kaki di lantai 3, latai yang menjadi saksi bisu perjuanganku.
            Dengan langkan gotai, saya mendatangi sesosok laki-laki yang lagi bermai dengan anaknya yang masih balita. Saya memberanikan diri untuk menegur laki-laki itu, dan meminta untuk sudi menjadi responden. Dan Alhamdulillah banget, laki-laki itu dengan senang hati mau menjadi responden, bahkan dia mau utuk mengisi kuesionernya sendiri.
            “Alhamdulillah, awal yang bagus” gumamku galam hati.
            Akupun melanjutkan usahaku untuk mendapatkan responden lainnya. Capek, yaaaa capek. Aku berjalan menyusuri setiap blok di mall sampai ujung-ujungnya dan tolakan demi tolakan yang saya dapatkan. Tapi aku tidak patah semangat, dan akhirnya satu demi satu responden berhasil saya dapatkan.  Akan tetapi masih jauh dari quota yang di berikan kepada ku. Dan akhirnya, pertolongan dari Allah pun datang juga, lewat sesosok temanku, sama-sama pensurvei juga. Kamipun berkerja sama, bantu membantu untuk mendapatkan responden. Karena teman saya itu seorang perempuan, jadi dia ahli untuk mendapatkan responden perempuan. Saya pun mendapat jatah untuk mencari responden laki-laki.
            Jarum jam berputar terus tanpa bisa dibendung seiring keringat yang tercurah dari tubuh saya. Samapi suatu ketika, saya hendak mewawancarai sesosok laki-laki separuh baya yang sedang duduk-duduk di koridor. Sayapun menghampirinya dan menyapanya.
            “Permisi pak, apakah bapak punya waktu sebentar?” sapa saya dengan sopan.
            “saya ini lagi pengen membunuh orang!!!” tiba-tiba bapak itu berkata kearahku.
            Lantas wajahkupun langsung kusut. Tetapi saya memberanikan diri untuk bertanya kepada bapak itu.
            “Memangnya ada apa ya pa?” tanyaku
            “Ini, mengapa AC nya mati? Jadi pengen mambunuh orang saja” kata bapak itu dengan nada tinggi.
            “Tenang pak, maka dai itu, saya kemari untuk menampung keluhan bapak terhadap mall ini, jadi bapak bisa memberi saran maupun kritik bapak ke mall” jawabku, sambil memasang muka imut.
            “Mau tanya apa?” Jawab si bapak degan nada yang masih tinggi.
            Akhirnya setelah melalui usaha yang cukup berat, saya berhasil mewawancarai bapak itu dengan sukses.
            Jam 3.30 sore, akhirnya saya berhasil menyelesaikan tugas untuk mencari 20 responden. Tak terhitung berapa kali saya mengelilingi mall ini dari ujung ke ujung, sampai-sampai saya hafal sendiri peta di gedung 3. Dengan nafas terengah-enggah, saya dan teman saya mengecek kembali form quesioner, apakah masih kurang atau sudah pas. Dan setelah mengecek, kamipun turun menghampiri kakak pengawas untuk menyerahkan quesioner yang telah terisi.
“Merdeka!!!” teriakku di dalam hati.
Yah, begitulah sedikit gambaran tentang sulitnya mencari lembaran rupiah demi menyambung hidup, membeli sesuap nasi yang nantinya digunakan sebagai sumber energi untuk mencari lembaran rupiah lagi. Dan siklus ini akan berlangsung terus menerus sampai raga ini tak mampulagi untuk bergerak.

You Might Also Like

0 komentar