Melati, Mawar, dan Tulip

October 09, 2012


Melati
               
                Sevis, kendaraan minibus yang selalu mengantar saya pergi dan pulang ke asrama ketika di Turki. Mulai dari siniah kisah ini bermula. Hari pertama masuk sekolah di Feza Koleji. Tepat pukul 07.30, sebuah minibus parkir didepan pintu asrama Husein Kilic. Itu tandanya bahwa kami harus bergegas untuk pergi ke sekolah, menuntut ilmu. Kesan pertama ketika naik servis tersebut adalah serasa waktu berhenti sejenak. Mengapa? Ternyata sopir servis ini bingung pemirsa. Dia heran sama 6 orang aneh yang berkulit coklat dan berambut hitam. Mungkin dia berpikir bagaimana bisa 6 orang aneh ini terdampar disini? Saat itu servis masih sepi, hanya ada si sopir dan satu anak sd berseragam hijau.
Hitam: Sena
                Setelah kami nyaman duduk, servispun berjalan menjemput para siswa lain. Ternyata servis itu berhenti lagi tidak jauh dari asrama kami, di dekat pasar Ondokuz Mayiz. Yaah... mulai dari sinilah kisah ini menarik. Setelah sang sopir membunyikan klakson, tiba-tiba muncl sosok gadis aduhai, hidung mancung, rambut pirang bergelombang, putih, dan tentunya sexy hehe. Terus, apa yang terjadi terhadap 6 anak coklat tadi? Persis kaya di sinetron-sinetron, semua mata tertuju pada gadis itu, serempak, ya.. serempak, dari mata sampe tengokan kepala. Ketika dia membuka pintu mobil dan masuk, dia kaget. Terlihat dari mata dan ekspresinya. Mungkin berbagai pertanyaan yang sama dengan si sopir muncul di pikirannya.
                Kejadian seperti itu pun terjadi berkali-kali. Lima hari dalam seminggu. Lama kelamaan kamipun meng-add facebook si melati. Meskipun bahasa Turki kami masih compang camping, kami tetap sok lancar dan ngajak Melati chattingan. Itupun seakan-akan menjadi sebuah lomba yang bergengsi antara kami. Siapa yang berhasil mengajak dia chattingan akan dianggap cowo yang waaahh. Karena kami tidak terima, dan ingin membuktikan siapa diantara kami yang dipilih oleh si Melati, kamipun mempunyai inisiatif untuk duduk berpisah-pisah di servis. Dan nanti dimana Si Melati memilih tempat duduknya, apakah disamping aku, atau teman-temanku. Ahirnya hari yang disepakati tiba, kami sudah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut momen ini. Rambut udah rapi, pakaian rapi dengan jaket terbaik, harum, yeeeaaahh.. kami udah siap untuk unjuk kebolehan sama dia. Tapi apa dikata, mental kami langsung drop ketika melihat Melati keluar pintu rumahnya. Kamipun bergegas untuk duduk berjejer lagi, ber 6 di bangku paling belakang #sungguh naas.
merah : Mawar
                Ternyata, seiring waktu berjalan. Kamipun telah banyak mengenal temen-temen sekolah kami. Tetapi, mayoritas murid di Feza Koleji adalah kaum adam, ya.. dari satu angkatan hanya terdapat sekitar 11 perempuan. Eeeeeittss, jangan salah. Biarpun cuma 11 perempuan, yang penting assooee broo. Menurutku ada 2 dari 11 perempuan ini yang recomended banget deh. Satu bernama Elif Satilmis yang kami beri inisial Mawar, dan satu lagi bernama Asuman Sena Kurt yang kami beri inisial Tulip. Selama 3 bulan kami sekolah di Feza, mereka suka curi-curi pandang kepada kami #maklum artis. Berbagak kedok untuk meliahat kami setiap hari, sampai-sampai kami pun bosen #ups. Tapi enggak bosen juga sih, cantik aduhai boy. Inilah salah satu hal yang membuat kami betah hidup di Turkey.
                Sekian dulu ya ceritanya, ntar gue ceritain yang lainnya deh, gak kalah seru kok ^.^

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM