Catatan perjalanan Gunung Merbabu 2011

August 10, 2012

Puncak Syarif dengan background Gunung Merapi
                
              
Puncak Kenteng Songo adalah puncak tertinggi Gunung Merbabu. Itulah target pendakian Jumpo Packer di bulan Juli 2011. Dengan beranggotakan 6 orang yaitu, Ardi, Fajar, Okas, Gilang, Ade, Zaki, kami memulai petualangan alam dan spiritual mengagumi dan menikmati ciptaan Sang Maha Indah. Perjalanan dimulai dengan menggunakan minibus Widodo Putro dari Muntilan ke Kopeng yang dtempuh dalam waktu 2 jam dengan biaya Rp 10.000. Kami berangkat dari terminal bus Muntilan pukul 13.30 siang. Di jam inilah bus terakhir Widodo Putro yang akan naik ke Kopeng, jadi jika kami terlambat, kami harus cari bus lain dan kami harus ganti bus  satu kali di terminal Magelang. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan di dalam bus, pukul 15.30 kami tiba di Kopeng. Istirahat sejenak di Masjid setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, melepas lelah, meluruskan kaki dan mengisiperut yang kosong.
                Perjalananpun dilanjutkan kembali sebelum matahari membenamkan diri di cakrawala barat. Dengan berjalan kaki menyusuri bukit rimbun nan asri. Jalan setapak yang terjal dan curam adalah pemanasan bagi kami. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai di base camp kita, yaitu desa Tekelan, salah satu pintu gerbang jalan pendakian Gunung Merbabu. Di sanalah kami menghabiskan senja kami, dengan ditemani oleh indahnya lagit kemerahan dan dinginnya tiupan angin gunung yang menusuk tulang. Shalat dan berdoa tak lupa kami kerjakan di malam harinya demi keselamatan dunia dan akhirat. DI base kamp kami bebas untuk makan, tiduran ataupun ngobrol-ngobrol dengan para sohib.
                Malampun semakin larut, puku 20.30 kami memulai perjalanan pendakian gunung Merbabu. Semangat kebersamaan terasa hangat berpadu dengan simfoni alam yang masih perawan. Medan berat, berdebu, dan dinginnya udara malam tak menggoyahkan semangat kami untuk mencapai puncak di pagi harinya. Jalur pendakian desa Tekelan memang mempunyai rute yang lebih panjang dari pada jalur desa Wekas. Akan tetapi jalur ini lebih landai dan tidak terlalu berat bagi para pemula. Jalur Tekelan yang menyusuri punggung gunung menyuguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota Salatiga, Ungaran, dan sekitarnya.
            Di jalur Tekelan ini terdapat 4 pos per istirahatan. Dari base camp ke pos 1 dapat ditempuh dalam waktu 1 jam. Di pos ini terdapat aliran mata air yang dapat kita manfaatkan untuk perbekalan kita. Pos 1 bukanlah tempat yang pas untuk istirahat berlama-lama karena keadaan sekitar pos terlalu rimbun dan sangatlah gelap. Perjalanan pos 1 ke pos 2 dapat kita tempuh dalam waktu 1,5 jam. Jalur yang dilalui belum terlalu berat, Cuma sesekali da tanjakan curam, tapi tidak panjang. DI pos inilah tempat yang pas buat beristirahat dan mengisi perut yang tentunya sudah keroncongan lagi. Keadaan pos 2 berbeda jauh dari pos 1. Posisi pos 2 yang berada di pinggiran hutan menyuguhkan pemandangan malam alam semesta. Tidak ada yang menghalangi pandangan kita.
               Istirahat menikmati harmoni alam sambil menyerutup kopi hangat di tengah alam memang sungguh mengasikkan. Persahabatan akan terasa kental disini, saling canda dan bertukar cerita mengisi setiap detik waktu sambil mengerumuni api unggun. Bau asap tidaklah menjadi halangan untuk merapatkan barisan kami, hanya untuk satu kata “kehangatan”. Tak lama sih, hanya 30 menit untuk melepas lelah, mengisi perut yang kosong, dan bersenda gurau bicara ngalor-ngidul.
            Waktu menunjukkan pukul 23.30. Watunya kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Mulai dari sinilah pendakian gunung Merbabu membutuhkan fisik yang kuat. Jalan terjal dan menanjak harus kami lewati. Membutuhkan waktu 1,5 jam untuk sampai di pos 3. Sebenarnya pos 2 ke pos 3 tidak terlalu jauh. Tetapi karena medan yang berat membuat kami banyak istirahat di tengah jalan. Di pos 3 kami hanya istirahat sebentar, mengingat waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Perjalanan pos 3 menuju pos 4 medannya tidak terlalu berbeda dengan jalur pos 2 ke pos 3. Tanjakan terjal menguras tenaga menemani perjalanan dini hari kami. Napas tersenggal-senggal dan lemas setibanya kami di pos 4. Di pos 4 ini kami kembali istirahat dan makan perbekalan kami. Waktu menunjukkan pukul 02.30. Perjalanan masih jauh untuk sampai puncak. Bergegas kami melanjutkan perjalanan setelah kami men-charge energi.
            Setelah pos 4, sedikit demi sedikit kami tidak menemui vegetasi lagi. Hanya batu-batuan besar dan tanah berdebu kami temukan. Medan lebih berat dari sebelumya. Menyusuri saluran air yang dalamnya se lutut tak terelakkan lagi. Angin kencang yang menusuk menerpa tubuh tegap kami. Kamipun membalut semua badan kami, mulai dari kepala sampai ujung kakai dengan semua penghangat yang kami bawa. Mulai sarung, penutup kepala, kaos tangan, kaos kaki, jaketpun sampai rangkap 2.
            Pukul 03.30, kami tiba di puncak menara. Puncak ini bukan puncak tertinggi Merbabu, teetapi puncak ini biasanya untuk istirahat atau tempat perlindungan jika terjadi badai.  Subuh menjelang, puncak Syarif pun sudah didepan mata. Kejar-kejaran dengan sun rise pun tak terelakkan lagi. Apapun dilakukan demi melihat secara langsung fenomena harian yang sangat agung, di mana pertanda dimulainya segala aktivitas. Fenomena harian. Ya memang fenomena harian, tapi ini beda. Ada feel tersendiri yang didapat dari sini, dari puncak gunung. Mengagumi dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT, serta menyadari betapa kerdilnya diri kami adalah sepercik hikmah yang dapat kami ambil dari puncak sebuah pasak bumi alias gunung. Diatas awan putih, menerawang jauh cakrawala yang masih kekuning-kuningan, dunia ini bak tiada ujungnya. “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”
                3 jam cukuplah puas kami berada di puncak. Makan, tidur, dan taklupa shalat subuh. Sekarang saatnya kami turun. Jangan anggap turun gunung seringan turun tangga. Kalo mungkin disuruh milih, mau naik gunung atau turun gunung, aku tetap gak milih satupun #ups. Ya, lutut akan terasa pegal dan medannya pun terlihat lebih berat. Sebenarnya medannya sama sih sama waktu naik. Tapi bedanya kalo pas naik kan masih gelap, jadi medannya gak kelihatan, maju terus aja, libas abiisss deh :D Kami turun melalui pintu pendakian Wekas. Jalurnya melewati badan gunung, jadi lebih curam dan waktu yang dibutuhkanpun juga lebih singkat. Selama perjalanan turun, kami melewati kebun-kebun edelweis di sepanjang jalur pendakian. Begitu indah dan begitu menakjubkan bunga itu, bunga abadi. Bunganya para pemegang cinta abadi hahaha.
                Akhirnya dengan perjuangan yang tak kenal lelah, pukul 15.00 kami sampai di rumah masing-masing dengan selamat. Oleh-olehnya pun tidak lupa, yaitu pengalaman dan persahabatan yang semakin erat di antara kami ber 6.

You Might Also Like

0 komentar

INSTAGRAM