Fenomena TID

May 27, 2012

               
          
            Fenomena uang TID (Tunjangan Ikatan Dinas) memang selalu menggemparkan mahasiswa STIS. TID bisa dikatakan bak seorang pacar, sering membuat hati galau dan hampa, kadang malah membuat kami hidup merana coy. Musibah besar terjadi menimpa mahasiswa STIS jika TID tidak kunjung turun setelah 2 bulan. Kegalauan para mahasiswa STIS tidak bisa digambarkan lagi deh, makin menjadi-jadi. Terkapar di kosan, setiap hari hanya bersemedi di kosan ditemani dengan internet yang lemot karena hanya mampu berlangganan yang 50.000. Itupun masih mending punya pulsa internet, kalau gak punya pulsa ya cuma buka leptop lalu main game Plant and Zombies deh #emangnya gue? Hahaha
            Ini belum gue ceritain soal makan memakan boy, ngenes banget pokokman. Kami hanya makan 2 kali sehari boy, itupun dengan lauk seadanya seperti tempe goreng, paling mewah juga perkedel dan sayur tahu. Selain itu, tips untuk menekan pengeluaran demi menjaga keseimbangan finansial kantong mahasiswa, kamipun rela untuk memasak nasi sendiri. Hitung-hitung tips ini memang dapat menekan pengeluaran sebesar 2-3 ribu perhari. Penderitaan itupun bertambah dengan hidup tanpa jus dan tanpa buah. Siang di Jakarta memang sangat panas, seperti hidup di tengah gurun sahara  ditambah panasnya efek badai matahari menjadi satu, jadi panasnya berlipat-lipat ganda, itulah panasnya Jakarta -____- Jadi segelas juz buah denga es yang gemerincing bagaikan oase di tengah panasnya Jakarta. Tapi tanpa uang TID, juz buah hanyalah angan-angan semata hahaha.
            Bagaimana keadaan para mahasiswa STIS jika TID 2 bulan turun sekaligus? Jika itu terjadi, maka Kelurahan Bidara Cina tempat dimana para mahasiswa STIS tinggal akan gempar, heboh dan hiruk pikuk yang luar biasa di kelurahan ini. Minimarket-minimarket gebanjiran pengunjung, dan 75% pengunjungnya adalah mahasiswa STIS. Mereka langsung belanja besar-besaran mulai dari makanan, perlengkapan kebersihan, dan khusus bagi para cewe-cewe abg pastinya membeli kosmetik untuk menjaga penampilan cantik mereka setelah 2 minggu sebelum TID turun tampil apa adanya tanpa kosmetik karena uangnya sudah habis. Tapi buat yang dasarnya sudah cantik, kosmetik memang tidak begitu vital sih, tetap terlihat cantik kok hahaha.
            Jangan salah ya bukannya ndeso atau sok kota, kalau mahasiswa STIS udah punya uang, mereka langsung pergi ke mall. Tapi sayangnya mall tujuan para mahasiswa ini biasaya cuma Atrium Senen, sehingga setiap jalan di Atrium, kita akan selalu berpapasan dengan mahasiswa STIS. Jadinya tidak bergengsi dong pergi kesana karena cuci matanya hanya mahasiswa STIS lagi dan lagi -,-“ Kaya tidak ada mall lain deh, padahal di megapolitan Jakarta ada puluhan mall mewah, entah kenapa mahasiswa STIS ini hobi pergi ke Atrium. Mungkin karena dekat, atau karena murah, atau karena lengkap, enggak tau deh saya, maaf saya belum melakukan survey mengenai itu :D
            Ada satu lagi fenomena ketika uang TID turun, yaitu maraknya form-form dagang dari himada maupun dari kelompok-kelompok lain. Mereka memanfaatkan kesempatan emas ini untuk jualan, mulai dari makanan, barang-barang elektronik sampai baju atau celana. Yang paling buat bete dari fenomena ini adalah, ketika perkuliahan berlangsung, form-form dagangan ini muter terus dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain, dan anehnya muternya tidak hanya 2atau 3 kali, tapi lebih dari 5 kali gan, buset deh, sampe bosen ane liatinnya.
            Udah dulu ya gan ceritanya, udah capek gue nulisnya hehehe, salam damai ^.^

You Might Also Like

0 komentar