Ekspedisi Gunung SIndoro 2009

December 29, 2011

                Liburan akhir semester genap kelas 1 SMA telah tiba, inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak JUMPO PACKER. Akhirnya waktu kami untuk melakukan ekspedisi ke Gunung Sindoro yang terletak di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah datang juga.
Nonton pertandingan bola sambi ngomprong congor
                Kami, anggota Jumpo Packer (Ardi, Okas, Okes, Gilang, Fajar, dan Pak Rudi) harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh untuk ke desa Kledung, Temanggung. Kami berangkat dari Muntilan naik bus Jogja-Semarang dan turun di terminal Tidar Magelang dengan ongkos 2500 per orang. Setelah itu kita naik mini bus Magelang-Wonosobo untuk sampai di desa Kledung. Ongkosnya per orang 6000. Oh my ghosh... Minibus magelang-wonosobo yang kami naiki sangat ekstreem, serasa naik jetkoster. Kernet minibus ini tidak pernah mingkem mulutnya. Setiap kendaraan yang menghalangi laju minibus ini selalu diteriaki agar minggir. Saking kencangnya laju minibus ini apa mungkin saking tuanya minibus ini saya gak tau, sampai-sampai kaki saya kepanasan serasa dipanggang akibat mesinnya puaanaaassee ppuuoolll (padahal saya udah pake sandal lho).
                Kami sampai di desa Kledung sekitar jam 4.30 sore. Sesampainya disana kami langsung disuguhi pertandingan sepakbola antar RT yang diwarnai pertikaian antar pemain (maklum Indonesia) hehe. Suasana desanya sangat asri, terletak diantara gunung Sindoro dan gunung Sumbing.
                Malam pukul 21.00 kami mulai berangkat untuk memulai perjalanan ke puncak. Tetapi, perjalanan kali ini agak berbeda karena kami bersama dengan para polisi dan tim sar. Para polisi dan timsar ini mau mengevakuasi korban yang masih berada di puncak. Tanpa terduga-duga (karena komandan tim ini tidak tau), kami diikutkan menjadi tim sar (timsar gadungan) haha. Kami mendapan nasi bungkus, pop mie, dan minuman dari pak kepala polisi Temanggung. Lumayan buat nambah perbekalan hehe.
Nonton Sun rise bersama Jumpo Packer
                Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai kepuncak Gunung Sindoro sangatlah panjang. Waktu menuju pos pertama, perjalanannya agak tersendat karena banyaknya tim sar dan polisi yang ikut evakuasi. Gak tau, ini tu lebay atau emang berpengalaman atau cai sensasi. Ada beberapa polisi yang membawa senjata laras panjang ke gunung, padahal kalian tahu sendiri senjata laras panjang itu beratnya minta ampun (paleng orangnya maco ya). Teori seleksi alam itu memang benar, setelah sampai di pos ke 4 hanya segelintir orang yang sanggup untuk melanjutkan. Seperti biasa. Kami (JUMPO PACKER) istirahat di tengah-tengah perjalanan untuk menikmati sebungkus mie rebus dan segelas kopi hangat untuk menghangatkan badan kami. Suasana yang sunyi dan hanya diterangi cahaya dari bulan membuat kami serasa menyatu dengan alam. Alangkah nikmatnya jika kita menyatu dengan alam (Makanya go green :D). Karena kami menganggap puncak gunung tinggal sedikit lagi dan waktu masih menunjukkan pukul 01.45, kami memutuskan untuk tidur sejenak. Tanpa pikir panjang kami langsung terkapar di dekat semak-semak tanpa takut kalau ada ular atau harimau atau mungkin kalajengking. (padahal waktu turun dan meihat tempat kami tidur tadi, samping semak-semak itu sudah jurang). Setelah pukul 02.30 kami melanjutkan perjalanan kami.
Puncak Sindoro
                Setela puku 03.30 kami sudah keluar dari hutan dan sudah memasuki zona berbatu. Kami pun harus lebih waspada agar tidak keruntuhan batu-batu besar (kalau kerikilsih gak papa *sok oye). Tetapi anggapan kami bahwa puncah gunung tinggal sedikit lagi itu salah kaprah, pukul 05.00 kami belum juga sampai di puncak gunung. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan solat Subuh terlebih dahulu. Setelah itu kami mendapatkan tempat yang  bagus untuk menikmati sun rise. Subhanallah, betapa agung kekuasaan-Nya. Mulai dari gunung merapi, merbabu, andong, telomoyo, ungaran bahkan gunung lawupun terlihat dari sini.
                Kamipun melanjutkan perjalanan kami. Pukul 06.00... Oh My Ghosh... Kami belum juga sampai di puncak. Kamipun akhirnya tidur dan makan lagi sambil berjemur (maklum dingin banget).
Pemandangan dari sisi yang berbeda
                Akhirnya pkul 07.10 kami tiba di puncak gunung Sindoro. Uiiihh.. Kawahnya luarbiasa luasnya. Tetapi, yang ingin kami tuju adalah lokasi dari mayat yang mau dievakuasi. Kamipun melanjutkan perjalan lagi untuk melihatnya. Ternyata mayatnya ada di puncak yang satunya. Mengerikan, mayatnya tinggal tulang-tulangnya saja, itupun sudah beserakan tengkorak, tulang punggung dan kakinya sudah berserakan dimana-mana. Mengapa mayat ini dulunya tidak diketahui? Mungkin karena mayat ini tidak berbau dan terletak di tengah semak-semak. Kan dipuncak gunung itu udaranya sangat dingin, jadi mayat itu tidak menimbulkan bau *ngeles haha.
                Setelah itu, kami pun turun ke kawah gunung ini. Jalan untuk menuju kawah sangatlah membahayakan, turunan tajam dan berbatu, lebarnya cuma setengah meter dan dalamnya kawah ini sekitah 20 meter, jadi kalau kita jatuh ya udah, kami ikut di evakuasi deh hehe. Jika di musim enghujan, kawah ini seperti danau, kawah ini terisi oleh air. Tetapi waktu itu musim kemarau, jadinya gak ada air deh (ada 1 sumber mata air dikawah ini, tapi Cuma kecil). Setelah kami puas keliling-keliling puncak, kamipun buat mie rebus lagi untuk mengisi perut kami.
                Pukul 09.00 kami pun mulai untuk perjalan turun gunung. Tapi sebelum turun, kami mencari bunga edelweis atau bunga abadi. Katanya, bunga ini jika kami kasihkan pada si pijaan hati, sipujaan hati akan luluh tahluk seketika. Bunga ini tidak akan layu meskipun tidak ditanam atau tidak diberi media apaun. Jadinya kalu kita ngasih bunga edelweis kepada sang pujaan hati lebih baik berkata “semoga cinta kita tidak ernah layu seperti bung ini” (idiiihh sok swit wkwk).
Tulang punggung dan lengan korban
tengkorak korban
                Perjalan turun gunung terasa begitu cepat, kami sampai di base camp pukul 13.00. Dan Kamipun langsung pulang. Sampai di rumah pukul 15.30 dengan selamat sentausa menghantakan rakyat Indonesia ke depan pintugerbang kemerdekaan.

Pemandangan dari puncak gunung Sindoro

You Might Also Like

3 komentar

  1. di. ajak ajak lah lek mau naek gunung. pengen aku :D - tapi serem itu tengkorak -______-

    ReplyDelete
  2. Hahaha.. sip ki.. tengkorak e mesakke :(

    ReplyDelete

INSTAGRAM