PERPISAHAN

September 30, 2011


 
Perpisahan... Dalam hidup di dunia ini kita tidak bisa mengelak dari kata itu. Jika kita renungkan satu kata itu pasti hati kita akan langsung layu dan berhenti menghasilkan cairan empedu (lebay). Ya, itu yang saya rasakan pada pertengahan bulan September 2011, tepatnya tanggal 13 September 2011 malam. Pergi ke perantauan yang dikenal sebagai kota metropolitan memang sangat tidak lazim bagi saya yang sejak kecil hidup di desa, yang tiap harinya bermain layang-layang di sawah belakang rumah hingga kulitnya hitam pekat. Saat meninggalkan kampung halaman yang tercinta hatiku merasa sangat berat untuk meninggalkannya. Meinggalkan sejuta kisah klasik, teman-teman sejati, orang tua, keluarga dan lazimnya anak muda lah, meninggalkan seseorang yang telah membuat saya bisa merasakan indahnya dicintai dan mencintai. ^^
Berpisah dengan orang tua memang dirasakan sangat berat. Tetapi bagi aku yang sewaktu SMA sudah hidup berpisah dengan kedua orang tua. Masa SMA sudah pergi jauh meninggalkan desa untuk mencari ilmu ke kabupaten Sragen. Maka dari itu, saya sudah terbiasa hidup mandiri jauh dari orang tua dan berusaha untuk tidak mengecewakannya. Karena saya yakin orangtua kita selalu mendoaakan kita sewaktu kita berada di perantauan. Dan yang paling penting, orang tua kita akan senang jika buah hatinya tumbuh menjadi orang yang sukses. Kita yang berada di perantauan juga harus selalu mendoakan kedua orang tua kita. Merekalah orang pertama yang selalu menyuport kita sewaktu kita jatuh, selalu mendoakan kita dan jika kita sukses nanti, mereka tidak akan menuntut balik kita. Itulah kemulyaan kedua orang tua kita.
Saat-saat terakhir di desa saya habiskan waktu saya untuk selalu bersama-sama dengan keluarga dan teman-teman. Teman yang dari kecil selalu menemani dan berkelai denganku. Kebersamaan yang sudah terjalin lebih dari 15 tahun, harus dipisahkan oleh jarak teritorial yang jauh. Beribu tawa sudah bersama-sama kami sunggingkan di bibir kami. Jika saya bisa, mereka akan ku ajak ke Jakarta untuk menemaniku melewati hari-hariku yang keras di Jakarta. Semoga sewaktu aku pulang nanti kebersamaan kita tidak akan luntur, itulah doa yang selalu kupanjatkan disetiap aku bersujud kepada Tuhan.
Yang tak kalah beratnya adalah berpisah dengan siidola. Aku masih ingat dan selalu aku ingat saat saya berpamitan dengan dia. Saat-saat terakhir itu saya ingin waktunya berhenti walau hanya 1 jam saja, agar aku bisa lebih lama bersama dengan dia. Tapi apalah daya, waktu tak bisa dihentikan walau hanya sedetik, waktu itu kami merasa pertemuan kami begitu cepat. Saat aku hampir pulang, dia menangis melepas kepergianku ke perantauan. Dia takut aku berbuat aneh-aneh di sana. Tapi aku yakinkan dia, aku tidak akan aneh-aneh di perantauan. Tetes air mata pun mengalir di pipinya, sebenarnya aku juga ingin meneteskan airmata saat itu juga. Tetapi saya tahan meskipun berat (masa cowok keren nangis di depan ceweknya wkwk). Aku berjanji kita akan bertemulagi suatu hari nanti jika ALLAH SWT mengijinkan kita. Dia banyak berpesan kepadaku salah satunya adalah jangan pernah lupa sholat dan mengaji. Setiap saya melihat Al Quran yang berwarna hitam pemberiannya saya selalu ingat dia. Semoga suatu hari nanti Tuhan mengijinkan kami bertemu lagi ya..amiiinn

You Might Also Like

3 komentar